Wednesday, September 28, 2016

Filosofi Bambu Dan Segala Kebaikanya



Tak hanya menarik ketika ditata untuk menghias taman. Pohon berbatang ramping itu juga mengandung filosofi hidup yang berguna untuk manusia. Kita dapat menjumpai pohon bambu dengan murah di sekitar lingkungan. Penampakannya sangat khas, rimbun berumpun dengan batang yang panjang serta daun yang bentuknya mirip rumput. Saat angin berembus, suara dari gesekan daun bambu memancarkan ciri tersendiri.

Pohon yang dapat menyejukkan taman rumah ini menyimpan filosofi yang bisa jadi belum diketahui banyak orang. Bambu, yang perubahan “wujudnya” terbilang lambat, sebetulnya memiliki kekuatan pada akar.

Satu hingga tiga tahun, pertumbuhan pohon ini dirasa lambat. Namun, sebenarnya selama kurun waktu tersebut, akar bambu sedang tumbuh dengan pesat sehingga memiliki kekuatan yang luar biasa.

Pertumbuhan bambu baru terlihat secara signifikan setelah empat tahun, dengan akar-akarnya yang juga tumbuh subur. Pada tahun kelima, setelah pertumbuhan akarnya selesai, barulah batang bambu akan muncul.

Tumbuh menjulang ke langit.  Proses kehidupan pohon bambu mengandung arti filosofis buat manusia, yakni betapa fondasi yang kuat sangat diperlukan.

Menurut klasifikasinya, bambu tergolong tanaman rumput. Namun, bambu adalah rumput spektakuler. Tingginya bisa terentang dari 30 cm hingga 30 meter. Bambu sebuah tanaman rumput yang unik. Nah, inilah pelajarannya. Meskipun berlatar tanaman rumput, bambu menjadi beda lantaran karakternya.Kegunaan dan cara bambu mengekspresikan diri, menjadikannya tanaman rumput yang berbeda.

Dalam kehidupan pun latar belakang, kita sebenarnya bukanlah penentu, melainkan bagaimana kita berupaya mengekspresikan potensi diri, tidak peduli latar belakang kita. Itulah yang akhirnya membuat kita menjadi pribadi luar biasa. Pohon bambu juga mengajari kita soal fleksibilitas. Kita jarang menyaksikan bambu roboh. Di tengah tumbangnya pohon-pohon lain akibat serangan angin puting beliung, bambu tetap tegar berdiri.
Selain karena akar yang kuat, batangnya juga mampu bergoyang bersama angin. Alhasil, dalam cuaca buruk dan angin kencang, pohon bambu bisa bergoyang dan mengeluarkan desis suara mengikuti irama angin.
Sementara pohon-pohon lain yang memiliki batang lebih besar, justru tidak kuat menghadapi ganasnya angin. Inilah yang disebut fleksibilitas.

Bambu tergolong keluarga gramineae, disebut juga dengan giant grass berumpun dan terdiri atas sejumlah batang yang tumbuh secara bertahap.
Mulai rebung, batang muda, hingga umur dewasa yang mencapai 45 tahun.
Bentuk batang bambu berbuku-buku atau beruas. Dia juga berdinding keras, dan di tiap ruasnya ditumbuhi mata tunas atau cabang.


Akar bambu berbentuk rimpang berbuku dan beruas. Setiap buku akan ditumbuhi serabut dan tunas yang dapat tumbuh sebagai batang.
Menurut arsitek lanskap Bintang Nugroho, pohon bambu adalah tanaman unik yang hampir sama dengan jenis rumput. Pertumbuhannya bertahap,
tetapi sangat cepat. “Pohon tersebut mempunyai batang tinggi.
Daunnya yang seperti rumput mempunyai kesan unik tersendiri,” jelas Bintang. Bintang menambahkan, bila kita menanam pohon tersebut di taman, nuansa tropis akan tercipta. Hunian pun tentu akan terasa lebih sejuk dan nyaman.


Menurut peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Elizabeth A Widjaja,  di Indonesia terdapat 160 jenis bambu. Sebanyak 88 jenis di antaranya merupakan bambu endemik atau jenis bambu khas yang terdapat di suatu daerah. Semua jenis bambu itu memiliki berbagai nilai yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Selain untuk kebutuhan perumahan dan perkakas rumah tangga atau tanaman hias, bambu merupakan salah satu jenis pohon yang sangat baik untuk kelestarian lingkungan.
“Sebagai fungsi pelestari lingkungan yang paling baik, bisa kita buktikan bahwa setiap ada rumpun bambu di sana, sudah pasti ada sumber air,” katanya.

Begitu banyak keunikan pohon bambu yang kita temui. Menurut jenisnya,
bambu ada yang berjenis bambu tali, pohon bambu rebung, bambu gombong, bambu wulung, bambu jepang, dan bambu china.
Arsitek Ridwan Kamil mengungkapkan, biasanya pohon bambu jepang mempunyai batang yang pendek, cenderung jarang-jarang atau tidak berumpun. “Tingginya pun mudah untuk kita atur,” imbuh Ridwan.

Jadilah Seperti Pohon Bambu

Dijelaskan bahwa pohon bambu itu, dari akar sampai daunnya mempunyai fungsinya masing-masing. Ini menggambarkan bahwa pohon bambu mempunyai manfaat yang luas bagi kehidupan.

Semisal akarnya, dikarenakan memiliki sistem perakaran serabut dengan akar rimpang yang kuat, memungkinkan tanaman bambu dapat menjaga sistem hidrologis sebagai pengikat tanah dan air, sehingga dapat digunakan sebagai tanaman konservasi.

Kemudian batangnya. Untuk batang bambu muda bisa dijadikan masakan khas dengan cita rasa tinggi. Bahkan di beberapa daerah menjadi makanan mahal. Selain itu batang bambu juga bisa digunakan sebagai bahan bangunan dan biasa juga dijadikan sebagai bahan baku untuk kerajinan tangan.

Lalu daunnya. Diberbagai buku-buku herbal, daun bambu bisa dijadikan obat untuk penyembuhan. Dipercaya bahwa daun bambu mampu menyembuhkan batuk, haus, dahak, radang tenggorokan, dan menghilangkan rasa panas. Anda bisa melihat bahwa tidak ada satu bagianpun dari pohon bambu yang tidak mempunyai manfaat.
Kita sebagai manusia yang mempunyai perasaan dan pikiran, bisakah seperti pohon bambu.

Bisakah setiap perkataan yang keluar dari mulut kita tidak merupakan hal yang sia-sia, tapi perkataan yang selalu mempunyai nilai manfaat bagi orang yang mendengarnya ? Bisakah setiap perbuatan yang kita lakukan tidak merupakan hal yang mubazir, tapi perbuatan yang selalu mempunyai daya guna bagi lingkungan ?

Mari kita simak perkataan Buya Hamka berikut :
“Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau kerja sekedar kerja, kera juga bekerja”

Dalam berbagai kalimat bijak, pohon bambu banyak dijadikan perumpamaan.
Ketika pohon bambu ditiup angin kencang, dia akan merunduk.
Setelah angin berlalu, dia akan tegak kembali.
Seperti perjalanan hidup seorang manusia, pastilah tidak lepas dari cobaan dan rintangan.

Jadilah seperti pohon bambu.
Yakinlah bahwa cobaan dan rintangan itu akan berlalu. Setelah itu segeralah bangkit dan berdiri tegak, seperti pohon bambu yang kembali tegak setelah angin berlalu.

Filosofi Bambu

1.Sebelum tumbuh akar bambu lebih dulu menguatkan dirinya sendiri,
meskipun berakar serabut, pohon bambu tahan terhadap terpaan angin kencang, dengan kelenturannya dia mampu bergoyang bak seorang penari balet,  fleksibilitas itu lah bambu. gerak yang mengikuti arus angin …tetapi tetap kokoh berdiri di tempatnya mengajarkan kita sikap hidup yang berpijak pada keteguhan hati dalam menjalani hidup walau penuh cobaan dan tantangan, namun tidak kaku.

2.Akar Bambu memiliki struktur yang unik karena terkait secara horizontal dan vertikal, sehingga dia tidak mudah ptah dan mampu berdiri kokoh untuk menahan erosi dan tanah longsor di sekitarnya, hikmah yang dapat kita ambil adalah bahwa agar kita mampu berguna baik untuk diri kita sendiri dan orang lain, sehingga akan membuat hidup kita lebih bermakna dan bermanfaat dalam kehidupan kita.

3.Bambu sebagai simbol siklus hidup manusia, contohnya setelah tunas tumbuh lalu keluar lah rebung, ini mengajarkan bagaimana kita perlu proses untuk menjadi lebih baik, dengan kesabaran, ketekunan, kegigihan dalam berusaha itu lah yang akan menjadi pintu kesuksesan seseorang,
walaupun mungkin standar kesuksesan berbeda setiap orang, tapi itu bisa mengajarkan kita bagaimana cara berproses, hidup bukan sesuatu yang instan tapi dia berproses, tinggal bagaimana kita bisa menjadikan proses ini menjadi lebih berguna bagi kita semua.

4.Kemampuan bambu untuk tumbuh ditempat yang sulit menyebabkan bambu tersebar dalam area yang sangat luas dari kawasan yang terbentang diantara 50 derajad lintang utara dan 47 derajad lintang selatan.

Penyebaran yang luas memungkinkan banyak sekali penggunaan bambu untuk tujuan yang berbeda, sumpit di kawasan Asia Timur seperti jepang dan korea, bahan anyaman untuk wadah, perangkap ikan, sampai alat musik dan obor penerangan, ini mengajarkan kita bahwa dimanapun kita berada, dimana bumi dipijak,  senantiasa memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi lingkungan sekitar kita, sesulit apapun keadaan, tak ada kata menyerah untuk terus tumbuh, tak ada alasan untuk berlama-lama terpendam dalam keterbatasan, karena bagaimanapun pertumbuhan demi pertumbuhan harus diawali dari kemampuan untuk mempertahankan diri dalam kondisi yang paling sulit sekalipun.

5.Dari klasifikasinya, bambu tergolong dalam tanaman rumput.
Tapi, bambu adalah rumput spektakuler. Tingginya terentang dari 30 cm sampai 30 meter. Ia sebuah tanaman rumput yang unik.  Nah, inilah pelajarannya. Meskipun berlatar tanaman rumput, bambu menjadi beda lantaran karakternya. Kegunaan dan caranya bambu mengekspresikan dirinya menjadikan bambu sebagai rumput yang berbeda. Dalam kehidupan pun, latar belakang kita sebenarnya bukanlah penentu.
Tetapi, bagaimana kita berupaya mengekpresikan potensi diri, tidak peduli latar belakang yang ada. Itulah yang akhirnya, membuat kita menjadi pribadi yang luar biasa.

MOTIVASI POHON BAMBU
Pada suatu waktu aku merasa sangat jenuh dan bosan dengan kehidupan ini dan ingin berhenti dari semuanya, berhenti dari pekerjaan, hubungan,  spiritual… dan berhenti untuk hidup.

Aku pergi ke tengah hutan dan ingin berbicara untuk yang terakhir kalinya dengan Sang Pencipta.

“Tuhan, mohon berikan saya satu alasan untuk tetap hidup dan berjuang?”
Ternyata jawaban Maha Pencipta yang Agung sangat mengejutkan….
“Lihat di sekelilingmu, apakah kamu melihat tanaman Semak dan pohon Bambu?
“Ya,” jawabku.

Yang Maha Pencipta mulai bertutur: “Saat aku menanam benih Semak dan Bambu, aku memelihara mereka dengan sangat baik dan hati-hati.
Aku memberi mereka sinar matahari, menyirami dengan air seadil-adilnya.


Tanaman Semak tumbuh dengan sangat cepat.  Daun-daunnya yang hijau tumbuh rimbun sampai menutupi tanah disekelilingnya. Sedangkan benih Bambu belum memperlihatkan apapun.

Tetapi aku tidak menyerah dan tetap memelihara mereka dengan baik dan adil.  Pada Tahun ke-2, tanaman Semak tumbuh makin subur, rimbun dan makin bertambah banyak. Tetapi, benih Bambu tetap belum memperlihatkan tanda-tanda pertumbuhan. Pada tahun ke-3, benih Bambu masih sama seperti sebelumnya.

Tetapi, tetap Aku tidak menyerah. Begitu juga dengan tahun ke-4 masih sama saja. Aku bertahan untuk tidak menyerah.

Kemudian, pada tahun ke-5, tunas kecil mulai muncul dari benih bambu.
Jika dibandingkan dengan tanaman semak, tunas ini sangat kecil dan sepertinya tidak sebanding dengan tanaman semak.

Tetapi 6 bulan kemudian pohon Bambu tumbuh hingga mencapai ketinggian 100 kaki.

Ternyata Bambu menghabiskan waktu 5 tahun untuk menumbuhkan dan menguatkan akarnya.
Akar-akar tersebut membuat Bambu menjadi sangat kuat sehingga kokoh menghadapi keadaan alam yang berubah-ubah. Bahkan pohon Bambu sangat berguna untuk kehidupan.

Aku tidak akan memberikan cobaan yang lebih berat dari kemampuannya kepada ciptaanku.” Aku terdiam. Menyimak baik-baik.  “apakah kamu sadar, selama ini kamu telah berjuang dan memperkuat akar?
Aku tidak menyerah saat menanam benih dan memelihara pohon Bambu, begitu juga denganmu. Jangan membandingkan dirimu dengan yang lain.
Bambu mempunyai fungsi yang berbeda dengan Semak, tetapi tetap mereka membuat hutan menjadi indah. Waktumu akan tiba dan kamu akan tumbuh dengan tinggi.” “Tetapi, seberapa tinggi saya harus tumbuh?” tanyaku.
Maha Pencipta menjawab: “Seberapa tinggi pohon Bambu tumbuh?”

“Apakah setinggi kemampuan dan usahanya?” tanyaku lagi “Benar. Berusahalah sebaik dan semaksimal mungkin.”

Kemudian aku pergi meninggalkan hutan dengan membawa kisah ini.
Aku harap kisah ini dapat membantumu melihat bahwa Tuhan tidak pernah menyerah untukmu.

Jangan pernah menyesali setiap hari dalam hidupmu. Hari-hari yang baik memberi kebahagiaan,hari-hari yang buruk memberi pengalaman tak ternilai; keduanya sangat berharga.

Sumber : berbagai sumber

Saturday, March 12, 2016

Ngelmu Bambu, Makna Filosofis Pohon Bambu dalam Pandangan Hidup Orang Jawa

Bambu memegang peranan penting dalam mata rantai tumbuhan, tanaman yang memiliki nama latin bambusea ini merupakan jenis rumput dengan rongga dan ruas di batangnya. Bambu juga merupakan salah satu tanaman dengan pertumbuhan paling cepat di dunia. Di berbagai penjuru belahan dunia, bambu memiliki aspek filosofis dalam beberapa kebudayaan bangsa. Bangsa Tiongkok menjadikan bambu sebagai simbol keteguhan dan ketulusan. Sementara bangsa India menjadikan bambu sebagai tanda atau simbol persahabatan. Bambu seringkali pula dijadikan sebagai simbol sosok seorang kesatria, jagoan, pendekar bela diri bahkan senjata dalam mengusir para penjajah.Tak jarang apabila kita melihat adegan film pendekar Tiongkok sering menggunakan bambu sebagai senjata, pun dalam film perjuangan di layar Indonesia. Konon, bambu runcing mampu mengalahkan musuh yang menggunakan senjata berteknologi canggih kala itu.
Bambu sebagai salah satu aspek dalam unsur kebudayaan dan kepercayaan masyarakat juga dapat ditemui dalam masyarakat Jawa. Sebagai salah satu etnis terbesar di Indonesia bahkan di Asia Tenggara, masyarakat Jawa memiliki berbagai filosofi hidup yang berkaca dari alam sekitar. Seperti pohon bambu, yang tak luput dari penganalogian falsafah Jawa, selanjutnya falsafah bambu sebagai pedoman hidup ini dikenal dengan Ngelmu Pring (Belajar dari Bambu) yang merupakan salah satu gambaran karakteristik orang Jawa.
Karakteristik Kultural Masyarakat Jawa
Seorang antropolog Niels Mulder dalam bukunya Mistisme Jawa : Ideologi di Indonesia menjelaskan bahwa etnis Jawa di Indonesia berjumlah lebih dari 40 persen dan 85 persen diantaranya memeluk agama Islam, namun beda secara kultural dan tradisi. Tradisi Jawa dihimpun dari kesusasteraan Sansekerta selama ribuan tahun seperti Pararaton, Negarakertagama, dan Babad Tanah Jawi. Dari sini kemudian muncullah ajaran Kejawen, dan Kejawenbukan kategori religius melainkan lebih kepada etika dan sebuah gaya hidup yang diilhami dari pemikiran Jawa.
Sementara itu salah seorang Indonesianis Ben Anderson dalam tulisannya Mitologi dan Toleransi Orang Jawa menyebutkan bahwa karakteristik orang sebagaimana tercermin dalam dunia Wayang. Wayang adalah pandangan moral yang menjadi pedoman terhadap perilaku orang Jawa. Disana tergambar sifat-sifat manusia yang dicerminkan lewat tokoh didalamnya.
Analogi yang demikianlah pada akhirnya memunculkan falsafah-falsafah dalam kehidupan masyarakat Jawa. Oleh karena itulah terkadang orang Jawa memiliki kehidupan yang sangat spesifik. Ki Ageng Soerja Mentaraman, salah seorang filsuf Jawa menyebutkan bahwa manusia sendirilah yang mampu mencapai kesempurnaan dan mengembangkan pengetahuan diri dan pemahaman mereka tentang suatu kehidupan.
Pengembangan pengetahuan dapat diperoleh dengan berbagai macam cara, termasuk diantaranya adalah dengan memahami dan memaknai keberadaan alam lingkungan sekitar. Lalu menganalogikan sesuatu lantas menjadikannya sebuah falsafah dan petuah hidup bijak . Dan salah satu yang dapat dianalogikan adalah pohon bambu atau dikenal sebagai Ngelmu Pring.
Beragam Jenis Bambu dan Filosofinya bagi Orang Jawa
Bambu atau Pring dalam bahasa Jawa, memiliki berbagai ragam jenis diantaranya bambu kuning (pring kuning), bambu cendhani, bambu apus, bambu wuluh, dheling, petung, dan bambu ori. Nama dari jenis bambu tersebut dalam falsafah hidup orang Jawa memiliki makna-makna filosofis tertentu. Adapun diantara filosofis diantaranya adalah :
"Pring Dheling tegese Kendhel lan Eling, kendhel mergo eling timbang grundel nganti suwing..” Memiliki arti bahwa orang hidup haruslah itu haruslah tau diri dan selalu mawas diri, jangan selalu menggerutu dalam menjalani kehidupan).
“Pring Ori, urip iku..mati kabeh seng urip mesti bakale mati..” Artinya adalah, hidup itu mati dan semua yang hidup pasti mati.
Pring Wuluh, urip iku tuwuh ojo mung emboh ethok-ethok ora eruh..” Bagian ini memiliki artian bahwa hidup itu tuwuh,selalu dinamis, dan jadi orang janganlah bersikap acuh dan pura-pura tidak tahu menahu apa yang seharusnya kita ketahui.
Pring Cendhani, urip iku wani ngadepi ojo mlayu mergo wedhi..”. Dalam menjalani hidup kita haruslah jadi seorang pemberani, berani menghadapi segala situasi dan jangan lari karena takut.
Pring Kuning, urip iku eling wajib podo eling marang sing peparing..". Pesan dari wejangan tersebut adalah, hidup harus selalu ingat pada Sang Maha Pengasih.
Pring Apus, urip iku lampus dadi wong urip ojo apus-apus..”. Walaupun hidup dinamis, namun hidup juga mudah rapuh atau lampus. Maka dari itu orang janganlah suka berbohong agar hidup kita tidak semakin rapuh.
“Pring Petung, urip iku suwung senajan suwung nanging ojo podo nganti bingung..” Hidup itu selalu dipenuhi masalah, dan terkadang masalah membuat kita semakin suntuk suwung. Namun, meskipun hidup penuh masalah kita hendaknya jangan selalu bingung.
Falsafah Ngelmu Pring juga menyebutkan bahwa “Pring kuwi suket, dhuwur tur jejeg rejeki seret ora usah podo buneg...”. Artinya adalah, walaupun bambu adalah masuk dalam keluarga rumput namun dapat berdiri tegak, walaupun rejeki sedang serethendaknya jangan terlalu suntuk. Selain itu dalam Ngelmu Pring, kita diajarkan bagaimana hendaknya kita selalu ingat akan mati sebagaimana pada penggalan “Menungsa podo eling yen tekan titi wancine bakal digotong anggo pring, bali neng ngisor lemah podo ngisor oyot pring...”. Hal tersebut memiliki arti yang sangat mendalam, apabila manusia sudah sampai waktunya (dalam hal ini mati) juga akan diusung dengan keranda yang terbuat dari bambu menuju ke tempat peristirahatan terakhir. Sebagaimana hal ini dapat kita temui dalam upacara kematian masyarakat pedesaan Jawa. Setelah diusung dan dimakamkan, maka sang manusia tersebut akan kembali kepada bumi dan beriringan dengan akar-akar bambu.
Masyarakat Jawa juga memiliki prinsip bahwa hidup itu berjalan seperti air, dan kita mengalir bersamanya. Pun demikian dengan bambu yang memiliki sifat “Ora gampang tugel, merga iso melur...”, (tak mudah patah, karena lentur). Bagi masyarakat Jawa sifat bambu yang sedemikian memiliki makna yakni “Urip kuwi ojo podo kaku, meluro lan pasrahoOjo mangu-mangu, nging terus mlaku..”. Dalam menjalani hidup kita jangalah menjadi orang yang kaku, bersikaplah melur atau fleksibel dalam artian kita selalu bersikap terbuka dan membuka diri. Hidup juga hendaknya jangan berpangku tangan, terus berjalan dan berusaha hingga Tuhan menunjukkan hasilnya. Usaha tersebut juga dibarengi dengan doa agar hidup selalu dalam lindungan Tuhan yang mengatur seluruh hidup kita.
Hidup juga janganlah berlebihan harta, konsumtif dan hedonis, hiduplah secukupnya. Bagi orang Jawa, apabila hidup dalam keadaan “Cukup sandang pangan papan, urip bakal mukti pakarti..”. Dengan artian bahwa apabila kita hidup berkecukupan dari segi sandang, pangan, dan papan maka hidup kita akan selalu bermakna jika dibarengi dengan budi pekerti yang luhur.
Seiring perkembangan zaman, Ngelmu Pring yang merupakan sebuah kearifan lokal Jawa tersebut kini dikemas dalam format sebuah lagu oleh duo rap vokal Rotra yang tergabung dalam Jogja Hiphop Foundation, salah satu kelompok hip hop asal Yogyakarta yang menjadikan falsafah Jawa sebagai inspirasi, sehingga dapat dengan mudah diingat tak hanya bagi masyarakat Jawa namun juga bagi semua orang. Jika ini coba kita terapkan dalam kehidupan, bukan tidak mungkin menjadikan hidup kita berjalan selaras dan seimbang dengan kosmologi alam.

Sumber Rujukan :
Niels Mulder. 2001. Mistisisme Jawa Ideologi di Indonesia. Yogyakarta : LKiS Pelangi Aksara.
Benedict Anderson. 2008. Mitologi dan Toleransi Orang Jawa. Yogyakarta : Jejak
*) Tulisan ini pertama kali dipublikasikan dalam Indonesiana Tempo 19 Agustus 2016 dengan judul ‘Ngelmu Pring : Analogi Bambu dalam Falsafah Hidup Orang Jawa’dan dipublikasikan kembali di laman ini dengan sedikit perubahan.

Friday, February 19, 2016

BAMBU DAN UNGKAPAN JAWA (3): NGELMU PRING (A)


Melanjutkan tulisan "Bambu dan Ungkapan Jawa (2): Dongeng dan paribasan",  NGELMU PRING adalah sebuah lagu beraliran “hip-hop” yang dinyanyikan “Rotra” dari Yogyakarta. Artinya kurang lebih “filosofi bambu”. Disini kita dapat menemukan bambu secara “all in one” baik manfaat fisik maupun filosofinya. Tidak terlalu mengherankan kalau maknanya bisa demikian dalam, karena syairnya ditulis oleh sosok kondang Sindhunata.

Karena alirannya “hip-hop” yang berselera muda, tentunya melalui “ngelmu pring” diharapkan kawula muda dapat memaknai hidup mereka. Tentusaja mereka harus paham bahasa Jawa. Kalau tidak, ya seperti pramuwisata Thailand yang telah saya tulis dalam “Bambu dan ungkapan Jawa (1): Pring dan lagu ayo ngising". 

Syair, terjemahan dan penjelasan singkat dapat dibaca di bawah ini:


PRING REKETEG GUNUNG GAMPING AMBROL

Lirik 

Pring reketek gunung gamping ambrolAti kudu tetep jo nganti uripmu kagol,
Pring reketek gunung gamping ambrol, Uripa sing jejeg nek ra eling jebol

Terjemahan 

Bambu gemeretak Gunung Gamping Runtuh, Hati harus tetap jangan sampai hidupmu terhambat,
Bambu gemeretak gunung gamping runtuh. Hiduplah yang lurus kalau tidak “ingat” hancur.

Pesan:

Pring reketeg gunung gamping ambrol menggambarkan tekad yang kuat, mampu mematahkan batang bambu yang lentur dan melongsorkan gunung kapur yang keras.
Hati yang tetep, jejeg dan dilandasi rasa eling akan menghilangkan hambatan hidup dan mencegah kehancuran hidup.


MACAM-MACAM BAMBU DAN PESAN KEHIDUPAN

Lirik 

Pring Ndeling, tegese kendhel lan eling, kendhel mergo elingtimbang nggrundel nganti suwing,
Pring kuwi suketDhuwur tur jejegRejeki seretRasah do bunek.
Pring OriUrip iku matiKabeh sing urip mesti bakale mati,
Pring ApusUrip iku lampusDadi wong urip ojo seneng apus-apus,
Pring PetungUrip iku suwungSenajan suwung nanging ojo bingung,
Pring WuluhUrip iku tuwuhOjo mung embuh ethok-ethok ora weruh.
Pring CendaniUrip iku waniWani ngadepi aja mlayu merga wedi,
Pring KuningUrip iku elingWajib padha elingEling marang sing peparing

Terjemahan:

Bambu Ndeling, Artinya berani dan ingat; Berani karena ingat, Daripada menggerutu sampai bibir sumbing. 
Pring itu rumput, Tinggi dan tegak; Rejeki seret, tidak usah bingung
Bambu Ori, hidup itu mati; Semua yang hidup pasti bakal mati
Bambu Apus, Hidup itu mati; Jadi orang hidup, jangan suka bohong
Bambu Petung, hidup itu hampa; Walaupun hampa, tetapi jangan bingung
Bambu Wuluh, Hidup itu tumbuh; Jangan bilang tidak tahu, Pura-pura tidak tahu
Bambu Cendhani, Hidup itu berani; Berani menghadapi. Jangan lari karena ketakutan
Bambu Kuning; Hidup itu ingat;  Semua wajib ingat, Pada Yang Maha Memberi 

Pesan:

Mengambil sinonim bambu (deling),  tanaman bambu sebagai rumput dan macam-macam bambu (ori, apus, petung, wuluh, cendhani dan kuning) dengan permainan guru swara yang pas, menghasilkan pesan-pesan hidup sebagai berikut:
  1. Berani bertindak dengan dilandasi rasa eling. Menggerutu tanpa tindakan, walaupun sampai bibir sumbing tidak akan ada hasilnya.
  2. Hidup itu mati dengan pengertian semua yang hidup pasti akan mati. Oleh sebab itu jangan suka berbohong yang akan menodai kehidupan kita
  3. Hidup itu hampa, tetapi isilah kehampaan itu, jangan kita justru menjadi bingung
  4. Hidup itu tumbuh, jangan pura-pura tidak tahu. Karena tumbuh, maka kita harus bergerak supaya bisa berkembang
  5. Hidup itu berani. Kita harus berani menghadapinya dan jangan melarikan diri karena ketakutan menghadapi hidup
  6. Hidup itu ingat (eling), ingat kepada Allah SWT sehingga hidup kita tidak melanggar norma-norma agama.
MANFAAT FISIK BAMBU DALAM KEHIDUPAN MANUSIA

Lirik

Pring iku mung suket,
Ning omah asale seka pring,
Usuk seka pring,
Cagak seka pring,
Gedhek iku pring,
Lincak uga pring,
Kepang cetha pring,  
Tampare ya mung pring,
Kalo, Tampah, Serok asale seka pring,
Pikulan, tepas, tenggok digawe nganggo pring,
Mangan enak, mancing iwak, walesane ya pring,
Jangan Bung aku gandrung jebule bakal pring

Terjemahan:

Bambu hanyalah rumput
Tetapi rumah berasal dari bambu
Usuk (penyangga atap) dari bambu
Tiang dari bambu
Dinding itu bambu
Kursi juga bambu
Kepang (gedhek yang belum dipasang) jelas bambu
Talinya ya hanya bambu
Kalo, tampah, serok (alat-alat dapur) asalnya dari bambu
Pikulan, kipas, bakul, dibuat dari bambu
Makan enak, memancing ikan, jorannya juga bambu
Sayur rebung, aku amat suka, ternyata berasal dari bambu yang masih muda

Pesan:
1.    Walaupun bambu hanya sejenis rumput tetapi manfaatnya bagi kehidupan manusia amat besar. Ingat Jalma tan kena ingina
2.    Bambu bisa dibuat menjadi rumah tinggal manusia, lengkap termasuk perabot dan peralatan dapur (usuk, tiang, dinding, kursi, kepang, tali, kalo, tampah, serok, pikulan, kipas dan bakul)
3.    Bambu dapat digunakan untuk mencari makan (joran pancing) sekaligus dimakan (rebung)

Adapun makna yang lebih dalam lagi dari “Ngelmu Pring” dapat dibaca pada lanjutan tulisan ini: Bambu dan ungkapan Jawa (4): Ngelmu Pring (B)