Tuesday, November 14, 2017

Penyakit pada Bambu dan Pengendaliannya



Penyakit Bambu dan Pengendaliannya
1.    Introduction
Bambu rentan terhadap berbagai penyakit dan gangguan, yang mempengaruhi di Pembibitan, perkebunan dan juga di alam. Sekitar 170 jenis bambu 26 genera dilaporkan terkena berbagai penyakit dan kelainan (Mohanan, 1997). Sebanyak 440 jamur, tiga bakteri, dua virus, satu fitoplasma (Organisme seperti mycoplasma) dan satu organisme mirip bakteri telah dilaporkan Terkait dengan penyakit dan kelainan ini (Mohanan dan Liese, 1990; Mohanan, 1994abc; 1997, 2004). Namun, di India, hanya sedikit penyakit yang diidentifikasi serius Yang mempengaruhi produksi culm dan juga produktivitas tegakan. Pengalaman terbatas Dalam meningkatkan stok tanam bambu bersama dengan kurangnya informasi tentang penyakit Mempengaruhi mereka dan langkah-langkah manajemen mereka sering mengakibatkan parsial Gagal total pembibitan bambu. Juga, penyakit yang menyerang muncul dan berkembang Batang pohon di perkebunan, wisma dan tegakan alami telah mempengaruhi Industri bambu, baik di sektor pedesaan maupun perkotaan. Bentuk bambu yang signifikan Komponen vegetasi alami di banyak negara bagian dan terjadi di daerah cemara tropis, Hutan semi-evergreen, dan lembab, perbukitan sub-tropis, dan juga selatan-Rem bambu lembab (Mohanan, 1994a). Bambu juga telah dibesarkan secara murni atau Dicampur dengan perkebunan serta di wisma dan lahan pertanian. Bambu memainkan mayor Peran dalam perekonomian negara bagian dan digunakan dalam industri rumahan tradisional dan Bahan baku industri kayu lapis, rayon dan kertas bambu.

2.    Penyakit di Stand Bambu dan Manajemennya
Bambu di alam berdiri, perkebunan, wisma, kebun maysarakat, dll adalah Rentan terhadap berbagai penyakit pada tahap pertumbuhan yang berbeda-beda. Baru muncul dan Tumbuhan lendir yang tumbuh umumnya rentan terhadap penyakit. Di antara sejumlah besar Penyakit yang tercatat di bambu, penyakit potensial yang mempengaruhi produktivitas tegakan termasuk busuk batang pohon yang tumbuh dan tumbuh, penyakit busuk bambu, penyakit busuk, witches' broom, penyakit daun kecil dan busuk basal culm. 

2.1.Rot dari Emerging Culms (Busuk batang (baru muncul) yang sedang tumbuh)
Bambusa balcooa, B. bambos, B. polymorpha, B. vulgaris, D. longispathus, D. strictus, Thyrsostachys Oliveri adalah spesies bambu yang paling parah terkena dampak. Infeksi dan mortalitas parah dicatat pada tegakan bambu dengan curah hujan tinggi Daerah di negara bagian Kerala dan Karnataka. Penyakit ini bermanifestasi sebagai lesi coklat tua Pada selubung terluar dari batang yang muncul (tinggi 15-20 cm), di dekat tanah (Gambar 2.1.1a.). Lesi ini menyebar dengan cepat dan menutupi keseluruhan Selubung batang luar. Infeksi menyebabkan busuk dari tender, pemotretan yang keluar dengan sigung Menjadi berubah warna dan mengeluarkan bau molase yang kuat. Penyakit ini menyerang Perkembangan lebih lanjut dari batang dan menyebabkan kerusakan total (Gambar 2.1.1b). Fusarium moniliforme var. alat pengantara Neish dan Legget adalah patogen jamur terkait Dengan penyakitnya. Curah hujan deras selama dan setelah munculnya batang pohon, pencairan air Di sekitar rumpun, pertambangan, aktivitas serangga dan pengelolaan lahan yang buruk merupakan faktor pendukung infeksi Penyakit ini juga telah dilaporkan pada berbagai jenis bambu Di Bangladesh dan Pakistan (Mohanan, 1997).
Langkah pengendalian budaya, seperti pembuangan puing di sekitar gumpalan sebelum Permulaan musim hujan, pembakaran ringan dari puing-puing di atas tanah, melonggarkan tanah Di sekitar rumpun sebelum munculnya culm, pemangkasan dan pemindahan cabang
Dari bagian basal batang yang lebih tua selama periode kering (Maret-April) adalah Disarankan untuk meminimalkan kejadian penyakit. Untuk menghindari kerusakan mekanis pada Batang pohon yang muncul disebabkan oleh ternak dan hewan lainnya, rumpun merawat dan membersihkan Operasi hanya direkomendasikan di tempat yang terlindungi dengan baik. Aplikasi dari Carbendazim (@ 0,2% ai) atau mancozeb (@ 0,3% ai) juga dianjurkan untuk Mengelola penyakit.

2.2.Busuk Batang Pohon Yang tumbuh
Di antara beberapa spesies bambu, B. balcooa, B. bambos, B. polymorpha dan D. strictus adalah terkenah dampak parah di India. Penyakit ini muncul seperti air yang direndam Lesi coklat di dasar selubung culm di mana mereka menempel pada nodus. Cedera pada selubung batang dan batang di wilayah nodal, yang dibuat oleh getah mengisap Purohita serangga
Cervina Jauh, predisposisi yang batang untuk infeksi jamur. Getah merembes keluar dari luka pinprick (luka tusukan) yang dibuat oleh serangga, dan infeksi berkembang di dalam dan sekitar luka-luka ini Dan membentuk lesi nekrotik besar. Infeksi sering menyebar ke seluruh selubung Dan ke jaringan di bawah sarung culm. Tanaman yang sangat terpengaruh berhenti tumbuh, Menjadi layu, dan jatuh bahkan sebelum mereka menyelesaikan fase pemanjangan mereka.

Wednesday, November 1, 2017

FUN FACTS ABOUT BAMBOO



Bamboo is one of the strangest plants on earth. It grows in many different places and adds to many people’s lives in many ways. Here are some inter- esting facts about this amazing plant.

Fact 1
Bamboo is the FASTEST growing land plant in the world... the only thing that grows quicker is giant sea kelp in the ocean!


Fact 2
Bamboo is a giant grass! It is not a tree. Bamboo grow with shallow grass like roots (just like lawn) they just grow hard woody culms instead!


Fact 3
Bamboo cools down the surrounding air by up to 8 degrees in summer! This acts as a natural air conditioning for your garden and any buildings in proximity.

 
Fact 4
Bamboo rarely flowers and seeds, about every 100 years or so. When it does, every plant of that same species seeds at the exact same time across the globe!

Fact 5
Bamboo is edible, well, most of them (some taste horrible!) The new shoots are harvested while they are still soft. They are often used inn asian cuisine or stir frys!

Fact 6
A panda's diet is 99% made up of bamboo shoots, poles and leaves, around 12-38kg every day!
The other 1% is made up of meat and other plants.


Fact 7
Clumping bamboo purifies the air up to 30% more effectively then any other plant! Your brain literally gets an oxygen high around it! This makes you happier & relieves tension & headaches!



Fact 8
There are over 1,500 species of bamboo in the world! Australia has around 100 and we specialise in the top 50 species that suit home gardens the best! (And pandas only eat 42 species out of 1,500!)


Fact 9
Bamboo are mostly drought tolerant and will survive lack of water, but if they are thirsty they will curl up their leaves! They do this to shy away from the heat and await rain or water. After a few days of being dry, they will drop some leaves to self mulch and reduce the amount of leaves needing hydration!


Fact 10
Bamboo poles are incredibly strong and sturdy (stronger then steel!) and are often used for construction and building throughout the world! Thin poles are good stakes in the garden or for weaving furniture. Larger poles are often used for scaffolding or building frames!

Fact 11
Bamboo is one of the best plants to use for soil stability and to prevent soil erosion. Perfect for protecting a riverbank, creek or dam walls, steep garden beds etc.


Fact 12
Bamboo is one of the most regenerative growing plants. It can survive frosts, fire, flood and was the only plant to survive Hiroshima, the atomic bomb in Japan 1945.

Fact 13
Bamboo is naturally anti-bacterial and anti-fungal. Bamboo is used to produce clothing, linen, and bamboo charcoal. Bamboo charcoal absorbs, purifies & deodorises the surrounding atmosphere.


Fact 14
Bamboo leaves are made into a delicious tea! It tastes similar to green tea and is comparable with nutritional benefits.
 
Fact 15
Thomas Edison used a carbonized bamboo filament in his very FIRST successful lightbulb!

Fact 16
Bamboo can be trimmed, hedged, thinned out, cut back, sculptured or manicured for ANY garden!


Fact 17
Bamboo grows all over the world, including really cold and really hot countries!
All continents except Europe and Antartica have native bamboo species!


Fact 18
Bamboo comes in many different shapes, sizes and colours! There is green, black, brown, gold, blue, white, grey, orange, purple, red, variegated, and even stripey!


Fact 19
Bamboo POPS! Bamboo is not a flammable material, it does however make a loud popping sound in a fire due to the air pocket between nodes. The very first fire crackers made in China were created out of bamboo.


Fact 20
Bamboo shoots grow so fast they were used as a torture practice by the Japanese in WWII. They would strap an enemy soldier to a bed in a forest over a growing bamboo shoot. The bamboo shoot would grow through the live body in just a matter of days! Ouch!

Monday, October 16, 2017

Prospek Industri Bambu

Brussel - Prospek industri bambu sangat menjanjikan. Pemanfaatannya tidak lagi terbatas pada kerajinan tangan dan industri kecil, melainkan meluas sampai infrastruktur dan sumber energi terbarukan. 

Hal itu disampaikan Duta Besar RI untuk Kerajaan Belgia, Keharyapatihan Luksemburg dan Uni Eropa, Arif Havas Oegroseno dalamsambutan pada pertemuan investasi di sela-sela the 9th World Bamboo Congress di University of Antwerp, Belgia (11/4/2012). 

"Namun demikian, bambu bagi masyarakat di Indonesia masih terbatas pada pemanfaatan tradisional dan lebih bersifat kultural. Pelaku usaha juga masih terfokus pada kelapa sawit," ujar Dubes seperti disampaikanMinister Counsellor Pensosbud dan Diplomasi PublikPalupi S. Mustajab kepada detikfinance. 

Menurut Dubes, potensi bambu sebagai produk ramah lingkungan, multi-fungsi, dan menguntungkan, sangatlah besar apabila diperhatikan secara serius oleh seluruh pemangku kepentingan industri bambu. 

Bambu mampu melepas 35% oksigen dan merupakan tumbuhan sangat berguna dalam menghijaukan tanah-tanah tidak produktif atau telah terdegradasi. Perkebunan bambu juga memberikan manfaat luas, tumbuh cepat, dan dapat dipanen dalam waktu singkat. 

"Di samping itu bambu juga dapat diolah menjadi panel, lantai, furnitur dan kebun bambu itu dapat menjadi lokasi penangkapan CO2, yang memiliki nilai ekonomi. Bambu memiliki citra sangat bagus sebagai material hijau," imbuh Dubes. 

Berdasarkan keterangan pengusaha dan investor bambu, antara lain Oprins NV dan Fiberstrength USA, nilai bisnis bambu di dunia saat ini mencapai US$ 7 miliar dan permintaannya dari waktu ke waktu terus meningkat. 

Eropa saja membutuhkan 700 ton panel bambu per bulan atau 8,4 juta ton per tahun, sementara AS membutuhkan 20 juta ton per tahun. 

Pertemuan investasi pada World Bamboo Congress tersebut diselenggarakan oleh World Bamboo Organization dan mempertemukan wakil dari pemerintah, investor dan juga masyarakat dalam membahas tentang prospek industri bambu. 

Sebelumnya Dubes menyampaikan indikator-indikator ekonomi Indonesia, prospek investasi di Indonesia, peluang dan tantangan dalam bisnis bambu di Indonesia, serta hal-hal yang telah dan sedang dilakukan oleh Indonesia dalam menghadapinya. 

Indonesia mengirimkan delegasi terdiri dari Kementerian Kehutanan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Pekerjaan Umum, dan Kementerian Parekraf, yang dipimpin oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kehutanan Iman Santoso. 

Tujuan utama partisipasi Indonesia dalam kongres ini adalah untuk meningkatkan pemahaman kepada pelaku industri dan juga masyarakat tentang potensi besar bambu dan produk-produk terkait dengan bambu. (es/es)

sumber: Eddi Santosa - detikFinance

Friday, October 13, 2017

Bambu Atasi Kekeringan

Mengatasi Bencana Kekeringan dengan Kearifan Lokal

Musim hujan kebanjiran, musim panas kekeringan. Aneh tapi nyata. Aneh karena Bumi Nusantara ini memiliki hutan tropis terbesar kedelapan di dunia. Nyata karena hampir seluruh wilayah di Indonesia sedang mengalami kekeringan, termasuk di Banten.
Itu semua dikarenakan ulah manusia yang belum menjalankan habblumminalalam. Kita ini kebanyakan mengambil haknya ke alam, namun kewajibannya sama sekali tidak dipenuhi. Sebagai contoh, membangun rumah yang ada unsur kayunya, entah itu buat atap, balok, tiang atau bekisting apakah diiringi dengan menanam pohon penggantinya? Atau menggunakan kertas untuk menulis, sudahkah menggantinya dengan menanam pohon sebanyak yang kita gunakan? Karena kertas itu bahan bakunya dari kayu. Saya yakin pasti jawabannya belum. Nah itulah yang dimaksud dengan manusia hanya menuntut haknya saja sedangkan kewajibannya mengganti diabaikan.
Khusus di Banten, Provinsi yang terkenal dengan kearifan lokal masyarakat adatnya yaitu Baduy dan Kasepuhan Banten Kidul pun tidak luput dari bencana kekeringan dan kekurangan air bersih. Bahkan salah satu Sultan Banten menyandang gelar Sultan Ageng Tirtayasa, karena berhasil dalam mengatur tatakelola air sehingga pas jamannya tidak ada bencana kekeringan dan kekurangan air bersih. Ini tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah saja atau menjadi tanggung jawab pemerintah saja. Tapi merupakan tanggung jawab bersama yang ada hubungannya dengan habblumminalalam.
Di Baduy dan Kasepuhan Banten Kidul punya kearifan lokal yang sangat luar biasa sekali dalam menjaga keseimbangan alam. Di sana tidak mengenal dampak bencana yang ditimbulkan oleh musim hujan atau musim kemarau. Mata air masih terjaga, air sungai masih mengalir, padi masih bisa dipanen, longsor, banjir dan kekeringan tidak pernah terjadi. Itu semua dikarenakan oleh peraturan adat yang masih dipegang teguh oleh masyarakatnya. Dan peraturan adat ini ternyata lebih kuat dibanding peraturan yang dibuat oleh anggota dewan dan pemerintah.
Mereka punya yang namanya Hutan Titipan. Hutan yang tidak boleh dimanfaatkan untuk apapun, baik itu kayunya ataupun sumber daya alamnya. Bahkan untuk masuk pun tidak diperbolehkan kecuali Pu’un/Abah/Olot/Oyot/Kepala Adat, itupun hanya setahun sekali. Luasnya mencapai 30% dari luas kawasan. Mereka punya yang namanya Hutan Tutupan. Hutan yang boleh dimanfaatkan tapi non kayu. Hutan inilah yang menjaga mata air sumber kehidupan yang dialirkan melalui sungai. Luasnya mencapai 50% dari luas kawasan. Mereka punya yang namanya Tanah Olahan. Tanah yang bisa dimanfaatkan untuk permukiman dan sawah serta ladang. Luasnya hanya 20% dari luas kawasan. “Leuweung Hejo Rakyat Ngejo”, demikian falsafah masyarakat adat Banten yang artinya jika hutannya hijau, maka rakyatnya pun sejahtera. Sampai sekarang falsafah itu masih terjaga dan bisa diterapkan di kawasan-kawasan lain sehingga bencana alam bisa diminimalkan.
Selain tata ruang dan falsafah kawasannya, Banten juga kaya tanaman bambunya. Memang belum ada catatan yang pasti mengenai berapa persen atau berapa banyak hutan bambu yang ada di Banten. Tapi dari beberapa wilayah yang pernah dikunjungi, baik itu di Tangerang, Serang, Pandeglang dan Lebak, pohon bambu di Banten itu sangat melimpah ruah bahkan sama sekali belum dijamah seperti di kawasan buffer zone Ujung Kulon, Baduy dan Kasepuhan Banten Kidul.
Berbicara lebih luas lagi untuk di negara kita Indonesia, ketersediaan sumber daya air, terutama di Pulau Jawa sudah sangat kritis. Dari jumlah Daerah Aliran Sungai (DAS) besar sekitar 136, 31% DAS sangat kritis, 41% DAS kritis dan 28% DAS agak kritis. Bagaimana dengan hutan di Indonesia? Dari data yang ada, kehancuran hutan kita itu sekitar 51 km2/hari, rentang waktu tahun 2000-2005 sekitar 1,8 juta Ha/tahun sehingga bisa disimpulkan kehancuran hutan kita itu no 2 di dunia berdasarkan luas dan no 1 di dunia berdasarkan prosentase.
Dengan kondisi yang sudah dijelaskan di atas, maka peran bambu begitu sangat penting karena sekitar 12% jenis bambu dunia yaitu 160 spesies berada di Indonesia (Prof. Elizabeth, 2012). Bambu juga memiliki beberapa keunggulan yaitu : kecepatan tumbuhnya 12”-36” per hari, lebih fleksibel dibanding kayu, dapat dipergunakan dalam umur tumbuh 3-5 tahun, multiguna,bisa menghindari dan menahan erosi, memperbaiki kandungan air tanah, renewable-sustainable, budi daya yang mudah serta bisa menciptakan lapangan kerja yang banyak. Di sisi lain, produksi biomassa bambu juga lebih baik dibanding kayu, yaitu 7x lebih banyak dari pada pohon lainnya, bertambah 10-3-% per tahun dibanding 2-5% pertahun untuk pohon lainnya, memproduksi antara 50-100 ton per Ha dan terbagi atas 60-70% batang, 10-15% ranting,, 15-20% daun-daunan. (Liese, 1985).
Dalam kaitannya dengan konservasi, sebuah penelitian di China, hutan bambu mampu meningkatkan penyerapan air ke dalam tanah hingga 240% dibandingkan hutan pinus. Penghijauan dengan bambu pada bekas tambang batu bara di India mampu meningkatkan muka air tanah 6,3 meter hanya dalam 4 tahun. Berdasarkan laporan penelitian tentang hutan di China, dedaunan bambu yang berguguran di hutan bambu terbuka paling efisien di dalam menjaga kelembaban tanah dan memiliki indeks erosi paling rendah dibanding 14 jenis hutan yang lain. Penelitian Prof. Koichi Ueda dari Kyoto University menyatakan bahwa sistem perakaran bambu monopodial sangat efektif di dalam mencegah bahaya tanah longsor. Hutan bambu dapat menyerap CO2 62 ton/Ha/Thn sementara hutan tanaman lain yang masih baru hanya menyerap 15 ton/Ha/Thn. Bambu juga melepaskan oksigen sebagai hasil foto sintesis 355 lebih banyak dari pohon yang lain.
Pemanfaatan biomassa bambu ini sangat beragam sekali, yaitu sebagai bahan bangunan hunian, jembatan, bambu laminasi, parket, perancah, perabotan, peralatan dapur, kerajinan, alat musik, kemasan, rebung, makananan ternak, obat, kertas, tekstil, bahan bakar, pupuk, kompos dan pompa air . (David Farelly – Book of Bamboo menyebutkan 1000 manfaat bambu dari A (acupuncture needles, airplane skins) sampai Z (zithers). Dalam hal konsumsi energi, perbandingan energi yang diperlukan untuk memproduksi bahan bangunan (N/m2) adalah beton 240, baja 1500, kayu 80 dan bambu 30. (J.A. Janssen, Bamboo Research at the Eindhoven University of Technology). Di daerah tropis dengan lahan 20×20 m2 kita dapat menanam bambu dalam 5 tahun untuk membangun 2 rumah @8×8 m2, dengan kebun bambu 60 Ha, setiap tahun dapat dibangun 1000 rumah dari bambu (costarica).
Potensi bambu di Indonesia sangat luar biasa sekali karena dari 1200-1300 jenis bambu di dunia, 160 jenis tumbuh di Indonesia (sekitar 12%). Kecuali Pulau Kalimantan, seluruh pulau di Indonesia mempunyai sumber bambu yang berlimpah. Diperkirakan terdapat 5 juta Ha hutan bambu di Indonesia (Kartodihardjo, 1999), di Jawa Barat sendiri (E. Widjaja, 2005) terdiri dari 4650 Ha di Tasikmalaya, 2950 Ha di Purwakarta dan 3400 Ha di Sukabumi.
Jadi, mengatasi kekeringan dan kekurangan air bersih itu harus menyeluruh dan tuntas. Dari hulu sampai hilir itu dijaga dan dibenahi. Selain itu pola pikir kita juga harus dirubah. Dulu kita berangapan bahwa air hujan itu harus cepat-cepat dialirkan ke laut. Nah sekarang dibalik, justru air hujan itu selama mungkin harus ditahan di dalam tanah. Caranya bagaimana? Tata ruang dengan komposisi 30:50:20 harus diterapkan dalam perencanaan dan pembangunan kawasan baik itu skala lingkungan maupun skala wilayah. Dalam skala lingkungan yang sangat kecil, yaitu rumah kita, harus tersedia bak penampung, sumur resapan atau biopori yang berfungsi untuk menyalurkan air hujan ke dalam tanah dengan ukuran yang proporsional sesuai luas halaman rumahnya. Sebagai penahan airnya, pohon bambulah yang paling efektif ditanam. Jika menggunakan AC, maka air buangannya itu harus ditampung karena air tersebut merupakan air bersih yang bisa dipergunakan kembali untuk kebutuhan hidup. Air limbah dari kamar mandi, wastafel dan tempat cuci pun sebaiknya jangan langsung dibuang ke got. Bila disalurkan ke tempat yang sudah ada pengolahannya maka air limbah pun bisa dipergunakan kembali.
Dalam skala lingkungan yang lebih besar lagi yaitu perumahan dan kota, model tata kelola air ini bisa diterapkan kembali. Harus ada hutan kecil atau hutan kota, kolam penampung dan sumur resapan. Jika kita menerapkan model seperti itu maka tidak diperlukan lagi pembangunan drainase yang selalu menjadi masalah baru dikarenakan kita tidak pernah merawatnya.
Itu model yang bisa diterapkan di bagian hilir yang sebagian besar merupakan rekayasa manusia. Sedangkan di bagian hulu dengan eksisting kearifan lokal yang masih dimiliki oleh Banten, sebenarnya penanganannya lebih mudah karena kewajiban kita hanya menjaga dan merawat. Wilayah-wilayah yang telah mengalami degradasi lingkungan dikonservasi ulang dengan tanaman bambu. Setelah itu baru dikombinasikan dengan pohon-pohon keras yang usia tumbuhnya itu butuh puluhan tahun.
Bambu memang bukan segalanya, tapi dengan bambu waktu yang dibutuhkan untuk konservasi lingkungan akan lebih cepat dibanding kayu.
Ke depan, Banten dengan segala potensi kearifan lokalnya disertai dengan implementasi model tata kelola air yang benar akan mampu mengatasi bencana kekeringan dan kekurangan air bersih.

Sumber : http://indonesianvillage.com/

 

Tuesday, October 10, 2017

Mengenal Lebih dekat ke Tanaman Bambu

Bambu merupakan tanaman yang sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Khususnya bagi penduduk yang tinggal di pedesaan, tanaman bambu menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan berbagai kegiatan sehari-hari masyarakat. Bambu banyak dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan pembuatan perkakas dapur, bahan pembuatan aneka keperluan pertanian, bahan bangunan, bahan kerajinan dan lain-lain.






Thursday, September 14, 2017

Budidaya Bambu Komersial


Bambu sebenarnya termasuk jenis tanaman yang tidak memerlukan persyaratan tempat tumbuh khusus, umumnya dapat tumbuh di semua lokasi dari ketinggian rendah sampai tinggi, tetapi basah dan keringnya lahan akan berpengaruh pada produktivitas batang dan ukurannya. Untuk jenis-jenis tertentu, kesesuaian lahan memang diperlukan untuk menghasilkan batang yang produktif dan berukuran optimal.  Pada kondisi lahan kering, beberapa jenis bambu seperti :
Petung (Dendrocalamus. asper),
Bambu Mayan (Gigantochloa robusta), 
Bambu Andong (G. pseudoarundinacea),
Bambu peting (G. laevis), 
Bambu apus (G. apus), 
Bambu benel (G. atter), 
Bambu Ampel Kuning (Bambusa vulgaris var striata), 
Bambu Ampel Hijau (B. vulgaris var vitata) dan 
Bambu Ori, Duri (B. blumeana
Bambu Balko/Balku (B. balcoa)
Sedangan untuk lahan basah atau sering tergenang banjir dan kesuburannya marjinal :
Bambu Ampel Kuning (B. vulgaris var striata)
Bambu Ampel Hijau (B. vulgaris var vitata
Bambu Duri (B. blumeana)
Bambu Balko/Balku (B. balcoa)
Beberapa jenis bambu sesuai tumbuh pada lahan dengan iklim C dan D atau iklim kering seperti jenis-jenis ampel kuning, ampel hijau, bambu duri/ ori, dan bambu ater (G. atter). Sedangkan pada iklim basah (A dan B), semua jenis bambu dapat tumbuh baik (Sutiyono, 2012).

Perbanyakan Bibit Bambu
Teknik pembibitan pada bambu masih dianggap sulit pada beberapa tahun ke belakang. Tetapi saat ini, dapat dikatakan bahwa pembibitan bambu sudah bukan merupakan pekerjaan yang sulit lagi. Pembibitan bambu dapat dilakukan dengan cara generatif menggunakan biji dan vegetatif konvensional menggunakan stek, baik batang, mata tunas, cabang dan rimpang batang. Cara vegetatif modern dengan cara kultur jaringan.   
Pembibitan menggunakan biji hampir tidak mungkin dilakukan karena sulitnya mendapatkan biji dari batang dalam rumpun bambu. Diketahui bahwa bambu berbunga umumnya setelah berumur 60 sampai ratusan tahun sehingga hanya secara kebetulan kita dapat menemukan batang bambu yang berbunga. Dengan demikian,  cara perbanyakan menggunakan biji ini sangat jarang dilakukan. 
Pembibitan bambu secara stek batang, rimpang, mata tunas dan cabang sudah dicoba dan memberikan hasil. Pembibitan secara stek berbeda-beda keberhasilannya tergantung jenis dan teknik serta fasilitas bahan alat dan lingkungan penyetekannya. Pada bambu petung, hasil stek batang kurang tinggi keberhasilannya, sekitar kurang dari 50% stek batang berhasil berakar (Charomaini, 2010). 
Cara perbanyakan cangkok kemungkinan berhasil tetapi pengerjaannya sulit karena harus mengarah ke atas. Yang seperti ini dapat dilakukan dengan cara membungkus setiap mata tunas dengan tanah basah kemudian menutup dengan sabut kelapa atau plastik transparan . Pekerjaan ini sulit dilakukan karena batang bambu lentur dan bercabang tajam, mata cabang mengarah ke atas batang sehingga jumlah bibit yang dihasilkan tidak akan banyak per batang. 

Cara Perbannyakan bambu cangkok klik here.....
Cara Perbannyakan bambu stek batang klik here.....


Perbanyakan bibit bambu dengan menggunakan rimpang batang yang dikenal sebagai stek rimpang. Cara ini sedikit memerlukan tenaga ekstra karena harus mendongkel rimpang batang dalam tanah yang biasanya cukup sulit. Sehingga terlihat bahwa jumlah rimpang yang akan dijadikan sebagai bibit menjadi sedikit karena terlalu banyak mengambil rimpang berarti mengurangi pertumbuhan batang tahun berikutnya. 
Pembibitan melalui kultur jaringan juga sudah sebagian memberikan hasil. Fasilitas laboratorium yang memenuhi syarat sangat membantu keberhasilan pembibitan kultur jaringan. Beberapa penelitian sudah berhasil menghasilkan plantlets atau bibit siap tanam, masih dalam tahap aklimatisasi, penyesuaian ke lingkungan tanam yang sebenarnya dan sebagian masih dalam tahap embriogenesis dalam tabung reaksi di dalam laboratorium yang seringkali juga gagal sebelum menjadi plantlets. 
Pembibitan melalui cara kultur jaringan membutuhkan biaya cukup tinggi baik untuk bangunan, alat dan bahan laboratoriumnya, di samping tenaga berkemampuan khusus dalam menangani pekerjaan kultur jaringan. Cara ini kurang dipilih untuk perbanyakan bibit dengan modal kecil sehingga cara pembibitan menggunakan stek sangat diminati petani pembibit bambu karena biaya rendah, teknologi sederhana, kebutuhan alat dan bahan tidak mahal, dan tidak begitu membutuhkan tenaga ahli. 

Setiap cara perbanyakan bibit memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Cara perbanyakan tradisional dapat memenuhi kebutuhan bibit dalam skala kecil. Namun untuk memenuhi kebutuhan pasar komersil secara luas semisal lahan ratusan Hectare akan memerlukan bibit ratusan ribu. Lahan seluas 100 Ha memerlukan bibit sebanyak 31.200 bibit bambu. Pengalaman kita menanam bambu di PT. Hutan Ketapang Industri, Ketapang Kalimantan Barat, dengan luas >500 Ha, membutuhkan bibit yang sangat banyak. Apalagi kita membutuhkan beragam jenis bibit. Perbanyakan secara tradisional tidak mampu memenuhi kebutuhan ini dalam waktu yang singkat. Perbanyakan untuk memenuhi kebutuhan itu diperlukan teknologi modern terutama dengan kultur jaringan. Cara perbanyakan dengan kultur jaringan ini satu-satunya di Indonesia adalah BAMBU NUSA VERDE. BAMBU NUSA VERDE (BNV) menerapkan teknologi kultur jaringan yang telah di kembangkan oleh perusahaan Belgia yaitu PLANT NV  Company, dan melakukan transfer teknologi di BNV.
 Bibit hasil Kultur Jaringan

Teknik Penanaman Bambu
Ada beberapa tingkatan penanaman bambu yaitu: penyiapan lahan, Land Clearing (pembersihan lahan), penyiapan pupuk lubang tanam (Organik dan Anorganik), Pengajiran, Pembuatan Lubang Tanam, Persiapan Bibit, pemberian nama jenis bambu untuk koleksi. Kemudian diteruskan dengan pekerjaan mengangkut bibit dari persemaian pembibitan ke blok tanam dan mengecer bibit ke setiap lubang tanam. 

1.      Land Clearing
Adalah kegiatan pembersihan lahan dengan menggunakan alat mekanis seperti Excavator, buldoser, ataupun alat lain, dimana lahan yang dilakukan pembersihan merupakan lahan yang masih ditumbuhi vegetasi atau pepohonan yang besar dan lebat. Jika pembersihannya dilakukan secara manual maka biayanya akan lebih besar dan memakan waktu yang sangat lama.
Standard kualitas : 
-          Bersih dari tunggul-tunggul pepohonan besar. 
-          Bersih dari sampah vegetasi/pepohonan yang ditumbangkan. 
-     Hasil stacking sesuai dengan alur yang telah ditentukan.


2.      Babat Semak dan Babat Pepohonan 
Adalah pembabatan atau pembersihan semak dan pepohonan yang ada dilokasi penanaman yang bila tidak dilakukan pembabatan atau penebangan akan mengganggu jarak pandang dalam kegiatan pemancangan ajir.
Standard kualitas : 
-          Tinggi babatan maksimal 5 – 10 cm. 
-          Bersih dari semak dan pepohonan. 
-          Tinggi tunggul pepohonan maksimal 50 cm.



3. Buat dan Pasang Ajir
Adalah pekerjaan membuat ajir sekaligus menancapkan diareal yang telah disediakan dan ditetapkan jarak tanamnya misalnya : 5x5m; 4x8m; 5x10m; 6x12m, tergantung dari performance masing-masing species yang akan ditanam, atau untuk tujuan apa bambu ditanam. Bila tujuan menanam bambu untuk dipanen rebungnya, jarak tanam yang ditentukan relative sempit misalnya 4x5m; atau 5x5m, karena buluh yang disisakan dalam setiap rumpun nantinya hanya 4 – 5 batang saja. Sedang jika penanamannya untuk tujuan dipanen batangnya maka jarak tanamnya cenderung lebih lebar, karena paling tidak buluh yang dipelihara setiap rumpun sebanyak 18 – 24 batang dari 3 atau 4 generasi buluh.
Pembuatan ajir tanaman dapat dilakukan di luar lapangan beberapa bulan sebelum penanaman. Ajir berukuran 1 – 1,5m, dibuat dari bambu berdinding agak tipis seperti apus yang banyak ditemui dan berharga relatif murah. Jumlah ajir yang diperlukan disesuaikan dengan jumlah lubang tanam dan ditambah dengan sejumlah yang kemungkinan hilang setelah penanaman (untuk penyulaman). 

Standard kualitas :
- Dibuat dari belahan bambu atau bahan lain yang lurus.
- Tinggi ajir atau panjang minimal 120 cm dengan tebal belahan bambu 3 – 4 cm.
- Bahan ajir yang tidak baik atau tidak lurus akan berpengaruh terhadap effektivitas hasil kerja.

4. Pembuatan lubang tanam 
Seperti tanaman pohon, diperlukan penyiapan lubang tanam yang umumnya berukuran lebih besar pada bambu yaitu 0,6m x 0,6m untuk setiap bibit. Diperlukan jarak tanam sesuai ukuran batang, jenis dan peruntukannya. Pada bambu petung berukuran besar, jarak tanam dapat dibuat 6m x 8m, 8m x 8m atau lebih. Ukuran ini memungkinkan petung memproduksi lebih banyak batang per periode pertumbuhannya dan mengurangi persaingannya dengan rumpun yang berdekatan. Setelah  dilakukan penggalian lubang, biarkan lubang menganga selama 7 sampai 10 hari sebelum dilakukan pengomposan, atau penanaman agar lubang mengalami proses oksidasi sehingga bakteri/jamur yang ada dalam tanah mati. Lubang tanam diisi dengan pupuk maupun seresah kemudian ditutup dengan tanah, yang memungkinkan penyediaan bahan organik yang banyak pada sekitar perakaran bibit bambu ketika ditanam nantinya.

Pemilihan waktu penanaman 
Pemilihan waktu penanaman umumnya dilakukan penanaman pada bulan menjelang musim hujan, seperti November, Desember, Januari dan Februari, dan paling lambat bulan Februari. Penanaman yang tidak tepat waktu menyebabkan lambatnya pertumbuhan atau menyebabkan kematian pada bibit berumur muda di lapangan. Bibit yang ditanam sebaiknya berumur 3 bulan, karena perakarannya sudah banyak. Sehingga dapat meminimalkan kematian.

5. Pengangkutan bibit dari persemaian pembibitan ke lapangan tanaman
Bibit di persemaian dipersiapkan dengan diberi label  per bibit kemudian diangkut ke mobil pikup/ angkutan bibit, dipisahkan secara kelompok atau per jenis untuk dibawa ke lapangan tanaman.

6. Pengeceran bibit dari pinggir lapangan tanaman 
Bibit dikelompokkan per jenis kemudian diikat dan diangkut dengan tenaga manusia/ kendaraan ke lubang tanam sesuai label dan lubang yang sudah direncanakan/ sesuai peta tanaman. Bibit diletakkan satu persatu di samping lubang tanam sesuai antara label dan lubang tanam dalam peta tanaman. Bibit belum ditanam langsung karena untuk pengecekan kesesuaian label dan lubang (sesuai peta tanam). 
 
7. Penanaman bibit di lapangan
Setelah label bibit dan lubang tanam sesuai peta, maka dilakukan  penyobekan kantong platik polibag dengan hati-hati. Bola tanah tidak boleh lepas dari sistim perakaran. Penanaman dilakukan dengan hati-hati, tidak merusak atau memisahkan akar dari batang/ bonggol. Akar diusahakan tidak terlepas dari butir tanah/ gambut disekitarnya (pada stek ditanam dalam polibag). Pada stek ditanam di tanah persemaian, usahakan akar dibalut tanah basah/ lembab sebelum ditanam di lapangan.
Bibit dari pembiakan stek di persemaian umumnya sudah mampu tumbuh baik di lapangan. Tetapi kalau menggunakan stek batang, stek cabang dan stek rizoma langsung tanam di lapangan maka harus dipersiapkan bahan bibit untuk penyulaman karena persen tumbuh stek langsung tanam di lapangan tidak selalu tumbuh berakar 100%, jenis tertentu hanya tumbuh kurang dari 50% meskipun stek rimpang hampir selalu berhasil tumbuh baik di lapangan. 

Sumber : Diskusi langsung dengan Agus Mashudi (2014).