Bambu sebenarnya termasuk jenis tanaman yang tidak memerlukan persyaratan tempat tumbuh khusus, umumnya dapat tumbuh di semua lokasi dari ketinggian rendah sampai tinggi, tetapi basah dan keringnya lahan akan berpengaruh pada produktivitas batang dan ukurannya. Untuk jenis-jenis tertentu, kesesuaian lahan memang diperlukan untuk menghasilkan batang yang produktif dan berukuran optimal. Pada kondisi lahan kering, beberapa jenis bambu seperti :
Petung (Dendrocalamus. asper),
Bambu Mayan (Gigantochloa robusta),
Bambu Andong (G. pseudoarundinacea),
Bambu peting (G. laevis),
Bambu apus (G. apus),
Bambu benel (G. atter),
Bambu Ampel Kuning (Bambusa vulgaris var striata),
Bambu Ampel Hijau (B. vulgaris var vitata) dan
Bambu Ori, Duri (B. blumeana)
Bambu Balko/Balku (B. balcoa)
Sedangan untuk lahan basah atau sering tergenang banjir dan kesuburannya marjinal :
Bambu Ampel Kuning (B. vulgaris var striata)
Bambu Ampel Hijau (B. vulgaris var vitata)
Bambu Duri (B. blumeana)
Bambu Balko/Balku (B. balcoa)
Beberapa jenis bambu sesuai tumbuh pada lahan dengan iklim C dan D atau iklim kering seperti jenis-jenis ampel kuning, ampel hijau, bambu duri/ ori, dan bambu ater (G. atter). Sedangkan pada iklim basah (A dan B), semua jenis bambu dapat tumbuh baik (Sutiyono, 2012).
Perbanyakan Bibit Bambu
Teknik pembibitan pada bambu masih dianggap sulit pada beberapa tahun ke belakang. Tetapi saat ini, dapat dikatakan bahwa pembibitan bambu sudah bukan merupakan pekerjaan yang sulit lagi. Pembibitan bambu dapat dilakukan dengan cara generatif menggunakan biji dan vegetatif konvensional menggunakan stek, baik batang, mata tunas, cabang dan rimpang batang. Cara vegetatif modern dengan cara kultur jaringan.
Pembibitan menggunakan biji hampir tidak mungkin dilakukan karena sulitnya mendapatkan biji dari batang dalam rumpun bambu. Diketahui bahwa bambu berbunga umumnya setelah berumur 60 sampai ratusan tahun sehingga hanya secara kebetulan kita dapat menemukan batang bambu yang berbunga. Dengan demikian, cara perbanyakan menggunakan biji ini sangat jarang dilakukan.
Pembibitan bambu secara stek batang, rimpang, mata tunas dan cabang sudah dicoba dan memberikan hasil. Pembibitan secara stek berbeda-beda keberhasilannya tergantung jenis dan teknik serta fasilitas bahan alat dan lingkungan penyetekannya. Pada bambu petung, hasil stek batang kurang tinggi keberhasilannya, sekitar kurang dari 50% stek batang berhasil berakar (Charomaini, 2010).
Cara perbanyakan cangkok kemungkinan berhasil tetapi pengerjaannya sulit karena harus mengarah ke atas. Yang seperti ini dapat dilakukan dengan cara membungkus setiap mata tunas dengan tanah basah kemudian menutup dengan sabut kelapa atau plastik transparan . Pekerjaan ini sulit dilakukan karena batang bambu lentur dan bercabang tajam, mata cabang mengarah ke atas batang sehingga jumlah bibit yang dihasilkan tidak akan banyak per batang.
Cara Perbannyakan bambu cangkok klik here.....
Cara Perbannyakan bambu stek batang klik here.....
Perbanyakan bibit bambu dengan menggunakan rimpang batang yang dikenal sebagai stek rimpang. Cara ini sedikit memerlukan tenaga ekstra karena harus mendongkel rimpang batang dalam tanah yang biasanya cukup sulit. Sehingga terlihat bahwa jumlah rimpang yang akan dijadikan sebagai bibit menjadi sedikit karena terlalu banyak mengambil rimpang berarti mengurangi pertumbuhan batang tahun berikutnya.
Pembibitan melalui kultur jaringan juga sudah sebagian memberikan hasil. Fasilitas laboratorium yang memenuhi syarat sangat membantu keberhasilan pembibitan kultur jaringan. Beberapa penelitian sudah berhasil menghasilkan plantlets atau bibit siap tanam, masih dalam tahap aklimatisasi, penyesuaian ke lingkungan tanam yang sebenarnya dan sebagian masih dalam tahap embriogenesis dalam tabung reaksi di dalam laboratorium yang seringkali juga gagal sebelum menjadi plantlets.
Pembibitan melalui cara kultur jaringan membutuhkan biaya cukup tinggi baik untuk bangunan, alat dan bahan laboratoriumnya, di samping tenaga berkemampuan khusus dalam menangani pekerjaan kultur jaringan. Cara ini kurang dipilih untuk perbanyakan bibit dengan modal kecil sehingga cara pembibitan menggunakan stek sangat diminati petani pembibit bambu karena biaya rendah, teknologi sederhana, kebutuhan alat dan bahan tidak mahal, dan tidak begitu membutuhkan tenaga ahli.
Setiap cara perbanyakan bibit memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Cara perbanyakan tradisional dapat memenuhi kebutuhan bibit dalam skala kecil. Namun untuk memenuhi kebutuhan pasar komersil secara luas semisal lahan ratusan Hectare akan memerlukan bibit ratusan ribu. Lahan seluas 100 Ha memerlukan bibit sebanyak 31.200 bibit bambu. Pengalaman kita menanam bambu di PT. Hutan Ketapang Industri, Ketapang Kalimantan Barat, dengan luas >500 Ha, membutuhkan bibit yang sangat banyak. Apalagi kita membutuhkan beragam jenis bibit. Perbanyakan secara tradisional tidak mampu memenuhi kebutuhan ini dalam waktu yang singkat. Perbanyakan untuk memenuhi kebutuhan itu diperlukan teknologi modern terutama dengan kultur jaringan. Cara perbanyakan dengan kultur jaringan ini satu-satunya di Indonesia adalah BAMBU NUSA VERDE. BAMBU NUSA VERDE (BNV) menerapkan teknologi kultur jaringan yang telah di kembangkan oleh perusahaan Belgia yaitu PLANT NV Company, dan melakukan transfer teknologi di BNV.
Bibit hasil Kultur Jaringan
Teknik Penanaman Bambu
Ada beberapa tingkatan penanaman bambu yaitu: penyiapan lahan, Land Clearing (pembersihan lahan), penyiapan pupuk lubang tanam (Organik dan Anorganik), Pengajiran, Pembuatan Lubang Tanam, Persiapan Bibit, pemberian nama jenis bambu untuk koleksi. Kemudian diteruskan dengan pekerjaan mengangkut bibit dari persemaian pembibitan ke blok tanam dan mengecer bibit ke setiap lubang tanam.
1. Land Clearing
Adalah kegiatan pembersihan lahan dengan menggunakan alat mekanis seperti Excavator, buldoser, ataupun alat lain, dimana lahan yang dilakukan pembersihan merupakan lahan yang masih ditumbuhi vegetasi atau pepohonan yang besar dan lebat. Jika pembersihannya dilakukan secara manual maka biayanya akan lebih besar dan memakan waktu yang sangat lama.
Standard kualitas :
- Bersih dari tunggul-tunggul pepohonan besar.
- Bersih dari sampah vegetasi/pepohonan yang ditumbangkan.
- Hasil stacking sesuai dengan alur yang telah ditentukan.
Adalah kegiatan pembersihan lahan dengan menggunakan alat mekanis seperti Excavator, buldoser, ataupun alat lain, dimana lahan yang dilakukan pembersihan merupakan lahan yang masih ditumbuhi vegetasi atau pepohonan yang besar dan lebat. Jika pembersihannya dilakukan secara manual maka biayanya akan lebih besar dan memakan waktu yang sangat lama.
Standard kualitas :
- Bersih dari tunggul-tunggul pepohonan besar.
- Bersih dari sampah vegetasi/pepohonan yang ditumbangkan.
- Hasil stacking sesuai dengan alur yang telah ditentukan.
2. Babat Semak dan Babat Pepohonan
Adalah pembabatan atau pembersihan semak dan pepohonan yang ada dilokasi penanaman yang bila tidak dilakukan pembabatan atau penebangan akan mengganggu jarak pandang dalam kegiatan pemancangan ajir.
Standard kualitas :
- Tinggi babatan maksimal 5 – 10 cm.
- Bersih dari semak dan pepohonan.
- Tinggi tunggul pepohonan maksimal 50 cm.
Adalah pembabatan atau pembersihan semak dan pepohonan yang ada dilokasi penanaman yang bila tidak dilakukan pembabatan atau penebangan akan mengganggu jarak pandang dalam kegiatan pemancangan ajir.
Standard kualitas :
- Tinggi babatan maksimal 5 – 10 cm.
- Bersih dari semak dan pepohonan.
- Tinggi tunggul pepohonan maksimal 50 cm.
3. Buat dan Pasang Ajir
Adalah pekerjaan membuat ajir sekaligus menancapkan diareal yang telah disediakan dan ditetapkan jarak tanamnya misalnya : 5x5m; 4x8m; 5x10m; 6x12m, tergantung dari performance masing-masing species yang akan ditanam, atau untuk tujuan apa bambu ditanam. Bila tujuan menanam bambu untuk dipanen rebungnya, jarak tanam yang ditentukan relative sempit misalnya 4x5m; atau 5x5m, karena buluh yang disisakan dalam setiap rumpun nantinya hanya 4 – 5 batang saja. Sedang jika penanamannya untuk tujuan dipanen batangnya maka jarak tanamnya cenderung lebih lebar, karena paling tidak buluh yang dipelihara setiap rumpun sebanyak 18 – 24 batang dari 3 atau 4 generasi buluh.
Pembuatan ajir tanaman dapat dilakukan di luar lapangan beberapa bulan sebelum penanaman. Ajir berukuran 1 – 1,5m, dibuat dari bambu berdinding agak tipis seperti apus yang banyak ditemui dan berharga relatif murah. Jumlah ajir yang diperlukan disesuaikan dengan jumlah lubang tanam dan ditambah dengan sejumlah yang kemungkinan hilang setelah penanaman (untuk penyulaman).
Standard kualitas :
- Dibuat dari belahan bambu atau bahan lain yang lurus.
- Tinggi ajir atau panjang minimal 120 cm dengan tebal belahan bambu 3 – 4 cm.
- Bahan ajir yang tidak baik atau tidak lurus akan berpengaruh terhadap effektivitas hasil kerja. 4. Pembuatan lubang tanam
Seperti tanaman pohon, diperlukan penyiapan lubang tanam yang umumnya berukuran lebih besar pada bambu yaitu 0,6m x 0,6m untuk setiap bibit. Diperlukan jarak tanam sesuai ukuran batang, jenis dan peruntukannya. Pada bambu petung berukuran besar, jarak tanam dapat dibuat 6m x 8m, 8m x 8m atau lebih. Ukuran ini memungkinkan petung memproduksi lebih banyak batang per periode pertumbuhannya dan mengurangi persaingannya dengan rumpun yang berdekatan. Setelah dilakukan penggalian lubang, biarkan lubang menganga selama 7 sampai 10 hari sebelum dilakukan pengomposan, atau penanaman agar lubang mengalami proses oksidasi sehingga bakteri/jamur yang ada dalam tanah mati. Lubang tanam diisi dengan pupuk maupun seresah kemudian ditutup dengan tanah, yang memungkinkan penyediaan bahan organik yang banyak pada sekitar perakaran bibit bambu ketika ditanam nantinya.
Pemilihan waktu penanaman
Pemilihan waktu penanaman umumnya dilakukan penanaman pada bulan menjelang musim hujan, seperti November, Desember, Januari dan Februari, dan paling lambat bulan Februari. Penanaman yang tidak tepat waktu menyebabkan lambatnya pertumbuhan atau menyebabkan kematian pada bibit berumur muda di lapangan. Bibit yang ditanam sebaiknya berumur 3 bulan, karena perakarannya sudah banyak. Sehingga dapat meminimalkan kematian.
5. Pengangkutan bibit dari persemaian pembibitan ke lapangan tanaman
Bibit di persemaian dipersiapkan dengan diberi label per bibit kemudian diangkut ke mobil pikup/ angkutan bibit, dipisahkan secara kelompok atau per jenis untuk dibawa ke lapangan tanaman.
Bibit di persemaian dipersiapkan dengan diberi label per bibit kemudian diangkut ke mobil pikup/ angkutan bibit, dipisahkan secara kelompok atau per jenis untuk dibawa ke lapangan tanaman.
6. Pengeceran bibit dari pinggir lapangan tanaman
Bibit dikelompokkan per jenis kemudian diikat dan diangkut dengan tenaga manusia/ kendaraan ke lubang tanam sesuai label dan lubang yang sudah direncanakan/ sesuai peta tanaman. Bibit diletakkan satu persatu di samping lubang tanam sesuai antara label dan lubang tanam dalam peta tanaman. Bibit belum ditanam langsung karena untuk pengecekan kesesuaian label dan lubang (sesuai peta tanam).




7. Penanaman bibit di lapangan
Setelah label bibit dan lubang tanam sesuai peta, maka dilakukan penyobekan kantong platik polibag dengan hati-hati. Bola tanah tidak boleh lepas dari sistim perakaran. Penanaman dilakukan dengan hati-hati, tidak merusak atau memisahkan akar dari batang/ bonggol. Akar diusahakan tidak terlepas dari butir tanah/ gambut disekitarnya (pada stek ditanam dalam polibag). Pada stek ditanam di tanah persemaian, usahakan akar dibalut tanah basah/ lembab sebelum ditanam di lapangan.
Bibit dari pembiakan stek di persemaian umumnya sudah mampu tumbuh baik di lapangan. Tetapi kalau menggunakan stek batang, stek cabang dan stek rizoma langsung tanam di lapangan maka harus dipersiapkan bahan bibit untuk penyulaman karena persen tumbuh stek langsung tanam di lapangan tidak selalu tumbuh berakar 100%, jenis tertentu hanya tumbuh kurang dari 50% meskipun stek rimpang hampir selalu berhasil tumbuh baik di lapangan.
Bibit dari pembiakan stek di persemaian umumnya sudah mampu tumbuh baik di lapangan. Tetapi kalau menggunakan stek batang, stek cabang dan stek rizoma langsung tanam di lapangan maka harus dipersiapkan bahan bibit untuk penyulaman karena persen tumbuh stek langsung tanam di lapangan tidak selalu tumbuh berakar 100%, jenis tertentu hanya tumbuh kurang dari 50% meskipun stek rimpang hampir selalu berhasil tumbuh baik di lapangan.
Sumber : Diskusi langsung dengan Agus Mashudi (2014).
