Monday, January 29, 2018

BAMBU DAN UNGKAPAN JAWA (3): NGELMU PRING (A)

Melanjutkan tulisan "Bambu dan Ungkapan Jawa (2): Dongeng dan paribasan",  NGELMU PRING adalah sebuah lagu beraliran “hip-hop” yang dinyanyikan “Rotra” dari Yogyakarta. Artinya kurang lebih “filosofi bambu”. Disini kita dapat menemukan bambu secara “all in one” baik manfaat fisik maupun filosofinya. Tidak terlalu mengherankan kalau maknanya bisa demikian dalam, karena syairnya ditulis oleh sosok kondang Sindhunata.

Karena alirannya “hip-hop” yang berselera muda, tentunya melalui “ngelmu pring” diharapkan kawula muda dapat memaknai hidup mereka. Tentusaja mereka harus paham bahasa Jawa. Kalau tidak, ya seperti pramuwisata Thailand yang telah saya tulis dalam “Bambu dan ungkapan Jawa (1): Pring dan lagu ayo ngising".

Syair, terjemahan dan penjelasan singkat dapat dibaca di bawah ini:


PRING REKETEG GUNUNG GAMPING AMBROL

Lirik

Pring reketek gunung gamping ambrol, Ati kudu tetep jo nganti uripmu kagol,
Pring reketek gunung gamping ambrol, Uripa sing jejeg nek ra eling jebol,

Terjemahan

Bambu gemeretak Gunung Gamping Runtuh, Hati harus tetap jangan sampai hidupmu terhambat,
Bambu gemeretak gunung gamping runtuh. Hiduplah yang lurus kalau tidak “ingat” hancur.

Pesan:

Pring reketeg gunung gamping ambrol menggambarkan tekad yang kuat, mampu mematahkan batang bambu yang lentur dan melongsorkan gunung kapur yang keras.
Hati yang tetep, jejeg dan dilandasi rasa eling akan menghilangkan hambatan hidup dan mencegah kehancuran hidup.


MACAM-MACAM BAMBU DAN PESAN KEHIDUPAN

Lirik

Pring Ndeling, tegese kendhel lan eling, kendhel mergo eling, timbang nggrundel nganti suwing,
Pring kuwi suket, Dhuwur tur jejeg; Rejeki seret, Rasah do bunek.
Pring Ori, Urip iku mati; Kabeh sing urip mesti bakale mati,
Pring Apus, Urip iku lampus; Dadi wong urip ojo seneng apus-apus,
Pring Petung, Urip iku suwung; Senajan suwung nanging ojo bingung,
Pring Wuluh, Urip iku tuwuh; Ojo mung embuh ethok-ethok ora weruh.
Pring Cendani, Urip iku wani; Wani ngadepi aja mlayu merga wedi,
Pring Kuning, Urip iku eling; Wajib padha eling, Eling marang sing peparing,

Terjemahan:

Bambu Ndeling, Artinya berani dan ingat; Berani karena ingat, Daripada menggerutu sampai bibir sumbing.
Pring itu rumput, Tinggi dan tegak; Rejeki seret, tidak usah bingung
Bambu Ori, hidup itu mati; Semua yang hidup pasti bakal mati
Bambu Apus, Hidup itu mati; Jadi orang hidup, jangan suka bohong
Bambu Petung, hidup itu hampa; Walaupun hampa, tetapi jangan bingung
Bambu Wuluh, Hidup itu tumbuh; Jangan bilang tidak tahu, Pura-pura tidak tahu
Bambu Cendhani, Hidup itu berani; Berani menghadapi. Jangan lari karena ketakutan
Bambu Kuning; Hidup itu ingat;  Semua wajib ingat, Pada Yang Maha Memberi

Pesan:

Mengambil sinonim bambu (deling),  tanaman bambu sebagai rumput dan macam-macam bambu (ori, apus, petung, wuluh, cendhani dan kuning) dengan permainan guru swara yang pas, menghasilkan pesan-pesan hidup sebagai berikut:
  1. Berani bertindak dengan dilandasi rasa eling. Menggerutu tanpa tindakan, walaupun sampai bibir sumbing tidak akan ada hasilnya.
  2. Hidup itu mati dengan pengertian semua yang hidup pasti akan mati. Oleh sebab itu jangan suka berbohong yang akan menodai kehidupan kita
  3. Hidup itu hampa, tetapi isilah kehampaan itu, jangan kita justru menjadi bingung
  4. Hidup itu tumbuh, jangan pura-pura tidak tahu. Karena tumbuh, maka kita harus bergerak supaya bisa berkembang
  5. Hidup itu berani. Kita harus berani menghadapinya dan jangan melarikan diri karena ketakutan menghadapi hidup
  6. Hidup itu ingat (eling), ingat kepada Allah SWT sehingga hidup kita tidak melanggar norma-norma agama.
MANFAAT FISIK BAMBU DALAM KEHIDUPAN MANUSIA

Lirik

Pring iku mung suket,
Ning omah asale seka pring,
Usuk seka pring,
Cagak seka pring,
Gedhek iku pring,
Lincak uga pring,
Kepang cetha pring 
Tampare ya mung pring,
Kalo, Tampah, Serok asale seka pring,
Pikulan, tepas, tenggok digawe nganggo pring,
Mangan enak, mancing iwak, walesane ya pring,
Jangan Bung aku gandrung jebule bakal pring,

Terjemahan:

Bambu hanyalah rumput
Tetapi rumah berasal dari bambu
Usuk (penyangga atap) dari bambu
Tiang dari bambu
Dinding itu bambu
Kursi juga bambu
Kepang (gedhek yang belum dipasang) jelas bambu
Talinya ya hanya bambu
Kalo, tampah, serok (alat-alat dapur) asalnya dari bambu
Pikulan, kipas, bakul, dibuat dari bambu
Makan enak, memancing ikan, jorannya juga bambu
Sayur rebung, aku amat suka, ternyata berasal dari bambu yang masih muda

Pesan:
1.    Walaupun bambu hanya sejenis rumput tetapi manfaatnya bagi kehidupan manusia amat besar. Ingat Jalma tan kena ingina
2.    Bambu bisa dibuat menjadi rumah tinggal manusia, lengkap termasuk perabot dan peralatan dapur (usuk, tiang, dinding, kursi, kepang, tali, kalo, tampah, serok, pikulan, kipas dan bakul)
3.    Bambu dapat digunakan untuk mencari makan (joran pancing) sekaligus dimakan (rebung)
Adapun makna yang lebih dalam lagi dari “Ngelmu Pring” dapat dibaca pada lanjutan tulisan ini: Bambu dan ungkapan Jawa (4): Ngelmu Pring (B)

Sumber : http://iwanmuljono.blogspot.co.id

Wednesday, January 10, 2018

BAMBU DAN UNGKAPAN JAWA (2): DONGENG DAN PARIBASAN

Melanjutkan tulisan “Bambu dan Ungkapan Jawa (1): Pring dan lagu ayo ngising",  salah satu bukti bahwa orang Jawa akrab dengan “pring” (bambu) adalah penggunaan kata “pring” atau terkait dengan “pring” dalam dongeng dan peribahasa.
DONGENG KANCIL DAN HARIMAU
Kancil sebagai tokoh fabel Jawa banyak muncul dalam ceritera sebelum tidur. Salah satunya adalah kisah “Kancil dan Harimau”. Rumpun bambu yang ditiup angin menimbulkan suara yang konon seperti alunan seruling. Kancil yang cerdik memanfaatkan fenomena alam ini untuk mengibuli harimau.
Alkisah kancil sedang terkantuk-kantuk di bawah rumpun bambu. Datanglah seekor harimau: “Nah ketangkap kali ini kamu Cil”. Kancil dengan kalem menjawab: “Apa kamu tidak melihat, bahwa aku sedang memainkan seruling Kanjeng Nabi Sulaiman? Dengarlah suara musiknya yang indah mendayu-dayu”. Harimau lupa laparnya. Ia pun ingin ikut memainkan alat itu. Tentusaja kancil berdalih. Hanya dia yang diijinkan memainkan. Setelah bernego cukup lama, kancil pun menyerah: “OK harimau, kau boleh memainkan setelah aku pergi.” Lalu kancil menunjukkan caranya. Harimau disuruh menjulurkan lidah, kemudian lidahnya dijepit diantara dua batang bambu. Kancil pun terbirit-birit menyelamatkan diri, meninggalkan harimau yang kesakitan karena lidahnya terjepit batang bambu. Saya tidak pandai berceritera, tetapi ceritera bisa seru dan menegangkan bergantung kepiawaian si juru ceritera bertutur-kata.
PARIBASAN
Beberapa paribasan yang dapat saya kumpulkan terkait dengan “pring” adalah:



1.    RAI GEDHEG: Gedheg adalah anyaman bambu untuk dinding rumah. Ungkapan “Rai gedheg” digunakan untuk menyebut orang yang tidak punya rasa malu. Dapat dibaca pada tulisan saya tahun lalu: Rai gedheg


2.    BUNG PRING PETUNG: “Bung” adalah rebung, anakan bambu yang dapat kita makan sebagai sayur atau pengisi lumpia. Bambu petung adalah bambu yang besar. Tentusaja “bung”nya juga besar. Ungkapan ini digunakan untuk menggambarkan anak yang cepat besar (longgor), lebih besar dari teman-teman sebayanya. 


3.    JAKSA PRING SADHAPUR: Menggambarkan pengadilan yang anggotanya dari pimpinan sampai bawahan masih keluarga. Mungkin kejadian seperti ini ada pada jaman dulu.  

4.    NYERET PRING SAKA PUCUK: Bayangkan kita menebang pohon bambu, lalu batang bambu yang sudah roboh kita tarik (seret) untuk kita garap lebih lanjut. Menyeretnya dari pucuk atau dari pangkal batangnya? Logikanya akan lebih mudah menarik dari pangkal batangnya yang besar. Ungkapan ini menggambarkan orang yang mengalami kesulitan dalam melakukan pekerjaan karena cara mengerjakannya salah. Dalam bahasa manajemen sekarang, gambaran orang yang menyelesaikan masalah bukan pada masalah pokoknya. Atau orang yang menyelesaikan masalah di hilir tanpa melakukan tindakan di hulu.
Jangan lupa juga dengan kata-kata “Pring reketeg gunung gamping ambrol” yang dapat dibaca pada BAMBU DAN UNGKAPAN JAWA (3): NGELMU PRING (A)

Sumber : http://iwanmuljono.blogspot.co.id

Thursday, January 4, 2018

BAMBU DAN UNGKAPAN JAWA (1): PRING DAN LAGU AYO NGISING

Bambu adalah tanaman yang amat akrab dalam kehidupan orang Jawa. Tidak kalah dengan kelapa, pisang dan padi. Amat banyak perabot rumah tangga terbuat dari bambu sebelum terpinggirkan oleh saingannya yang bernama plastik. Rumah bambu (gedhek) sampai saat ini masih ada dan kasihan juga karena rumah bukan tembok berlantai tanah menjadi salah satu kriteria menetapkan kemiskinan. Walau demikian kerinduan kepada bambu rupanya muncul lagi. Banyak kita lihat hotel-hotel berbintang dan restoran-restoran ternama menghiasi interiornya dengan bambu, termasuk dinding bambu.

LAGUNYA JAHANAM (AYO NGISING)
Tentunya Bapak/Ibu pernah mendengar lagu ini “Ayo ngising ayo ngising; ning kebon ning kebon; tutupi godong pring tutupi godong pring; ndang garing ndang garing” yang dinyanyikan kelompok Jahanam. Tidak masuk akal juga, masa tinja kalau ditutup daun bambu (pring) akan cepat kering. Tapi ini kan masalah permainan “guru swara” dengan akhiran “ing” semua dalam setiap baris.
Kala itu saya mengikuti pertemuan di Thailand, kemudian ikut tour ke obyek-obyek wisata di sekitar Bangkok. Pemandu wisatanya dua, satu laki-laki dan satu perempuan. Di atas bis wisata, guide yang cewek menyapa saya: “What is your nationality, sir?” Ketika saya katakan bahwa saya orang Indonesia, dia menyambung lagi dengan ceria: “I know Indonesian song”, kemudian ia menyanyi. Saya pikir ia mau menyanyi lagu “Bengawan Solo” atau lagu-lagu Indonesia yang “go international” lainnya. Ternyata ia melantunkan “Ayo ngising, ayo ngising .....” 

Si cewek Thailand mengakhiri lagunya dengan tertawa-tertawa. Ganti saya yang tanya: “You know the meaning?” “No sir, just the song”. Lalu saya jelaskan kepada si pramuwisata yang cewek itu: “Ayo, means please. Then ngising ....” saya berpikir sejenak: “Ngising means wake up”. Saya tidak terlalu bohong. Bukankah lagu ini aslinya “Are you sleeping, are you sleeping, brother John .....” 
 
Saya pikir ceriteranya berhenti sampai di situ. Ternyata tidak. Ketika kita hampir sampai tujuan, melihat teman (Indonesia juga) yang duduk di depan saya tertidur, si guide mendekati, menepuk bahunya pelan-pelan dan berkata dengan pedhe: “Ayo ngising sir, we will arrive in one minute”. Tentusaja beberapa teman Indonesia tertawa. Sementara teman yang terjaga dari mimpinya, kelihatan bego dalam kemelut “bangun” dan “ayo ngising”.
“Rasain lu”, guman saya. Bagaimanapun hati saya senang bahwa kata “Pring” (bambu) bisa diucapkan oleh orang yang bukan Indonesia di luar Indonesia, walaupun pronounciation-nya tidak sempurna. Orang Thai banyak yang tidak fasih mengucapkan huruf “R”.
Dilanjutkan ke BAMBU  DAN UNGKAPAN JAWA (2): DONGENG DAN PARIBASA


Sumber : http://iwanmuljono.blogspot.co.id