Tahap Pengelolaan
|
Waktu
Kegiatan
|
Pembukaan areal dan
penanaman
|
|
Pengadaan bahan tanaman
|
|
Pembibitan
|
|
Pemeliharaan
|
|
Pada
pembibitan bambu, penyiraman harus dilakukan setiap hari jika curah
hujan kurang dari 8-10 mm. Sedangkan bila curah hujan telah mencapai
8-10 mm atau lebih sudah dapat disetarakan memenuhi kebutuhan air untuk
bibit kelapa sawit dalam sehari.
Pada
waktu pembukaan areal, kawasan yang mempunyai perbedaan musim kemarau
dan musim hujan yang jelas, penumbangan dalam pembukaan areal dilakukan
pada awal musim kemarau. Pengolahan tanah pada lahan yang terlalu
kering akan mengakibatkan pecahnya agregat tanah, sedangkan dalam
keadaan terlalu basah akan mengakibatkan pemadatan. Oleh karena itu
pengolahan tanah yang tepat adalah pada bulan hujan sedang.
Penanaman
tanaman bambu ke lapang sebaiknya dilakukan pada bulan hujan sedang
atau bulan hujan besar untuk menghindari terhambatnya pertumbuhan
bambu. Pada daerah yang tidak dijumpai curah hujan bulanan kurang dari
100 mm, penanaman dapat dilakukan sepanjang tahun serta dipilih curah
hujan yang lebih tinggi.
Keberhasilan
pemupukan sangat dipengaruhi oleh intensitas curah hujan.Pemupukan yang
tepat dilakukan pada bulan hujan sedang atau setidaknya padabulan curah
hujan kecil, sehingga pencucian pupuk dapat dikurangi. Pemupukan pada
bulan hujan besar akan menyebabkan sebagian pupuk tercuci, sebaliknya
pemupukan pada bulan kering akan menyebabkan penguapan pupuk
danketersediaannya berkurang.
Perhitungan
keseimbangan (defisit dan surplus) air pada tanaman untuk keperluan
praktis di lapangan dilakukan dengan perhitungan metode Surre (1968) dan
Tailliez (1973). Perhitungan tersebut dilakukan dengan menggunakan
asumsi umum bahwa keseimbangan air merupakan jumlah air dari curah hujan
ditambah dengan cadangan awal air dalam tanah kemudian dikurangi dengan
evapotranspirasi. Evapotraspirasi diasumsikan bernilai 150 mm/bulan
jika hari hujan ≤10 hari/bulan dan bernilai 120 mm/bulan jika hari hujan
>10 hari/bulan.
Hubungan pengelolaan pertanaman Bambu dengan peranan ilmu iklim yang diperlukan pada masa mendatang
Pengelolaan
|
Peranan
ilmu iklim yang diperlukan pada masa mendatang
|
Pembukaan areal dan
penanaman
|
|
Pengadaan bahan tanaman
|
|
Pembibitan
|
|
Pemeliharaan
|
|
Pemanenan
|
|
Peranan ilmu iklim untuk pertanaman bambu pada masa mendatang perlu lebih ditingkatkan utamanya dalam mengantisipasi penyimpangan iklim (climate anomaly) maupun perubahan iklim (climate change). Anomali ataupun fluktuasi iklim yang ekstrim pada beberapa kawasan dapat menimbulkan masalah seperti dampak kekeringan terhadap produksi, sedangkan perubahan iklim dapat menimbulkan masalah maupun peluang baru untuk tanaman bambu. Perubahan iklim mengakibatkan musim hujan akan semakin basah dan musim kemarau akan semakin kering sehingga berimplikasi negatif terhadap produksi bambu. Oleh karena itu, peranan ilmu iklim bagi pertanaman bambu haruslah dapat digunakan secara kuantitatif dan spesifik. Sejalan dengan itu peranan iklim harus juga diketahui secara lebih epat pada setiap tahap pengelolaan pertanaman bambu.