Saturday, March 3, 2018

Hubungan kegiatan pengelolaan pertanaman bambu dangan data Iklim

Hubungan kegiatan pengelolaan pertanaman bambu dengan waktu yang mana iklim berperan pada masa kini


Tahap Pengelolaan 
Waktu Kegiatan
Pembukaan areal dan penanaman
  • Pembukaan dan persiapan lahan dilakukan pada musim kemarau. 
  •  Penanaman dilakukan pada  awal musim hujan.
Pengadaan bahan tanaman
  • Produksi bibit dipengaruhi oleh ketersediaan inokula/stek di kebun induk yang berhubungan dengan fluktuasi iklim.
  • Proses aklimatisasi alami dan pertumbuhan akan lebih baik dilakukan pada musim kemarau.
Pembibitan 
  • Pertumbuhan bibit lebih baik pada musim hujan, namun pertumbuhan pada musim kemarau  masih dapat dikendalikan secara mikro dengan melakukan penyiraman.
Pemeliharaan 
  • Pemeliharaan khususnya pemupukan dilakukan pada awal atau akhir musim hujan (curah hujan optimal 100 - 200 mm/bulan).
  • Penyesuaian pemeliharaan tanaman perludilakukan pada musim kemarau denganmemperkecil evapotranspirasi, sebaliknya padamusim hujan besar dengan drainase danmemperbesar evapotranspirasi.

Pada pembibitan bambu, penyiraman harus dilakukan setiap hari jika curah hujan kurang dari 8-10 mm.  Sedangkan bila curah hujan telah mencapai 8-10 mm atau lebih sudah dapat disetarakan memenuhi kebutuhan air untuk bibit kelapa sawit dalam sehari. 

Pada waktu pembukaan areal, kawasan yang mempunyai perbedaan musim kemarau dan musim hujan yang jelas, penumbangan dalam pembukaan areal dilakukan pada awal musim kemarau.  Pengolahan tanah pada lahan yang terlalu kering akan mengakibatkan pecahnya agregat tanah, sedangkan dalam keadaan terlalu basah akan mengakibatkan pemadatan.  Oleh karena itu pengolahan tanah yang tepat adalah pada bulan hujan sedang. 

Penanaman tanaman bambu ke lapang sebaiknya dilakukan pada bulan hujan sedang atau bulan hujan besar untuk menghindari terhambatnya pertumbuhan bambu.  Pada daerah yang tidak dijumpai curah hujan bulanan kurang dari 100 mm, penanaman  dapat dilakukan sepanjang tahun serta dipilih curah hujan yang lebih tinggi. 

Keberhasilan pemupukan sangat dipengaruhi oleh intensitas curah hujan.Pemupukan yang tepat dilakukan pada bulan hujan sedang atau setidaknya padabulan curah hujan kecil, sehingga pencucian pupuk dapat dikurangi.  Pemupukan pada bulan hujan besar akan menyebabkan sebagian pupuk tercuci, sebaliknya pemupukan pada bulan kering akan menyebabkan penguapan pupuk danketersediaannya berkurang.  

Perhitungan keseimbangan (defisit dan surplus) air pada tanaman untuk keperluan praktis di lapangan dilakukan dengan perhitungan metode Surre (1968) dan Tailliez (1973).  Perhitungan tersebut dilakukan dengan menggunakan asumsi umum bahwa keseimbangan air merupakan jumlah air dari curah hujan ditambah dengan cadangan awal air dalam tanah kemudian dikurangi dengan evapotranspirasi. Evapotraspirasi diasumsikan bernilai 150 mm/bulan jika hari hujan ≤10 hari/bulan dan bernilai 120 mm/bulan jika hari hujan >10 hari/bulan.  

Asumsi lain yang digunakan adalah kemampuan tanah dalam menyimpan air/cadangan air dalam tanah maksimum 200 mm. Nilai keseimbangan air menunjukkan tingkat keterserdiaan air per bulan. Keseimbangan air dengan nilai < 0 mm menunjukkan adanya defisit air, sedangkan kesimbangan air dengan nilai > 0 mm menunjukkan tidak adanya defisit air.  Bila keseimbangan air dalam perhitungan tersebut bernilai 0 – 200 mm, maka kelebihan air akan disimpan dalam tanah sebagai cadangan awal untuk bulan berikutnya.  Kemudian bila keseimbangan air dalam perhitungan tersebut bernilai > 200 mm, maka kelebihan air setelah cadangan air tanah maksimum 200 mm merupakan surplus atau drainase.
Hubungan pengelolaan pertanaman Bambu dengan peranan ilmu iklim yang diperlukan pada masa mendatang
Pengelolaan 
Peranan ilmu iklim yang diperlukan pada masa mendatang
Pembukaan areal dan penanaman
  • Implikasi perubahan iklim terhadap peluangperluasan areal di dataran tinggi perlu terus dikaji secara kuantitatif, lebih tepat dan digradasi menurut ketinggian tempat.
  • Penyusunan model-model hubungan iklim dengan perluasan dan kondisi fisik tanaman perlu terus dikembangkan.
Pengadaan bahan tanaman
  • Hubungan iklim  dan produksi tandan di kebun induk maupun kecambah kelapa sawit perlu dipahami secara kuantitatif.
  • Iklim mikro proses produksi bahan tanaman perlu lebih dipahami secara kuantitatif.
Pembibitan 
  • Modifikasi iklim mikro pada pembibitan dalam hubungannya dengan pertumbuhan, hama dan penyakit (seperti Culvularia) perlu lebih diketahui solusinya.
Pemeliharaan 
  • Hubungan Iklim untuk kegiatan pemeliharaan utamanya pemupukan, hama dan penyakit perlu lebih dipahami secara rinci.
  • Hubungan Iklim mikro pertanaman kaitannya dengan perkembangan hama dan penyakit perlu lebih dipahami dan diperoleh solusi pengendaliannya.
Pemanenan
  • Implikasi anomali maupun perubahan iklim terhadap pertumbuhan dan produksi (jumlah dan penyebarannya) perlu lebih diketahui secara kuantitatif dan lebih tepat. Hal ini penting karena perubahan iklim berimplikasi musim hujan menjadi semakin basah dan musim kemarau menjadi semakin kering.
 

Peranan ilmu iklim untuk pertanaman bambu pada masa mendatang perlu lebih ditingkatkan utamanya dalam mengantisipasi penyimpangan iklim (climate anomaly) maupun perubahan iklim (climate change).  Anomali ataupun fluktuasi iklim yang ekstrim pada beberapa kawasan dapat menimbulkan masalah seperti dampak kekeringan terhadap produksi, sedangkan perubahan iklim dapat menimbulkan masalah maupun peluang baru untuk tanaman bambu.  Perubahan iklim mengakibatkan musim hujan akan semakin basah dan musim kemarau akan semakin kering sehingga berimplikasi negatif terhadap produksi bambu.  Oleh karena itu, peranan ilmu iklim bagi pertanaman bambu haruslah dapat digunakan secara kuantitatif dan spesifik.  Sejalan dengan itu peranan iklim harus juga diketahui secara lebih epat pada setiap tahap pengelolaan pertanaman bambu.